Selasa, 01 November 2011

27 Balita Karyawan PT TBS Diserang Campak

Sebanyak 27 orang balita karyawan PT Tri Bakti Sarimas (TBS) terkena penyakit campak. Terjangkitnya penyakit itu dikarenakan tidak tercapainya imunisasi campak ke kawasan tersebut.

Kondisi itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan dr Djasmudin Djalal, M.Kes melalui Kabid Pengendalian Kesehatan Masyarakat Mira Setiana kemarin kepada pers di Teluk Kuantan.

Dikatakan, 27 orang balita yang terkena campak itu merupakan anak-anak karyawan PT TBS di Desa Sungai Besar Kecamatan Kuantan Mudik

Menurut Mira Setiana, dari pemeriksaan tim Dinas Kesehatan, terjangkitnya penyakit campak tersebut, akibat tidak tercapainya imunisasi ke kawasan tersebut beberapa waktu belakangan, namun pihaknya telah memberikan obat dan vaksin kedaerah yang terjangkit tersebut dan telah dilakukan sweeping ke lapangan.

Dikatakan Mira, tidak tercapainya Imunisasi tersebut beberapa tahun yang lalu dikarenakan kurangnya tenaga kesehatan diwilayah Pucuk Rantau Kecamatan Kuantan Mudik, saat itu hanya ada satu Puskesmas. Tapi saat ini, untuk kawasan Pucuk Rantau telah ada dua puskesmas. (noprio sandi)

Minggu, 30 Oktober 2011

Kuansing Terancam Kehilangan SDM Berkualitas

Untuk kedua kalinya Kabupaten Kuantan Singingi terancam akan kehilangan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas. Kehilangan ini diakibatkan kisruh pemilukada dan pemotongan kesra, sehingga pengawai yang non job dan mengejar kesra tinggi akan mencari daerah lain.

Demikian pantauan kondisi terkini Kuansing setelah pelaksanaan pemilukada, dimana PNS yang non job setelah diperlakukan tidak manusiawi mereka ramai-ramai mencari daerah lain, kabupaten/kota atau provinsi lain untuk tempat pindah, dan ternyata dari mereka juga telah ada yang berhasil pindah tersebut.

Dari pengakuan sejumlah PNS yang non job, penyebab utama mereka ingin mencari daerah lain sebagai tempat tugas yang baru dikarenakan situasi kerja di Kuansing tidak kondusif lagi, PNS yang terindikasi sebagai lawan politik diperlakukan tidak manusiawi.

Disamping perlakuan tidak manusiawi, PNS itu bertekad pindah akibat telah dipotongnya dana kesra di Kuansing, pemotongan yang cukup signifikan ini membuat pengurangan penghasilan yang sangat besar.

Sementara sejumlah daerah lain memberikan dana kesra lebih tinggi hingga berkali lipat dari Kuantan Singingi, diantaranya daerah yang menjadi incaran pemerintah Provinsi Riau, Pemko Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Kabupaten Rokan Hulu, serta ada yang mau pindah ke Kabupaten Anambas Provinsi Kepulauan Riau. “Rencananya akan pindah ke Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, disana Kesra lebih besar,” kata seorang PNS yang enggan disebutkan namanya.

Mereka yang pindah ini merupakan PNS yang memiliki SDM yang di Kuansing, karena selama ini, roda pemerintahan dijalankan orang-orang yang memiliki SDM bagus itu, bukan dari hasil KKN.

Sementara itu, kehilangan SDM ini juga terjadi lima tahun yang lalu, ketika mantan bupati Kuansing Drs. H. Asrul Ja’afar kalah melawan Sukarmis, banyak pejabat yang eksodus dari Kuansing.

Dengan adanya kejadian serupa saat ini akan mengancam Kuantan Singingi kehilangan SDM berkualitas, sehingga Kuansing akan kembali seperti kabupaten baru yang kesulitan mendapatkan SDM berkualitas, padahal usianya telah mencapai 12 tahun. (noprio sandi)

Kesbang Polinmas Diminta Cari Upaya Penuntasan Konflik Pemilukada

Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Polinmas) diminta mencari upaya menuntaskan konflik pemilihan umum kepala daerah. Pasalnya, masyarakat saat ini masih terkotak-kotak

Permintaan itu disampaikan Dian Pranata Putra dari Astari, Kamis (27/10) dalam acara seminar Pengamalan Pancasila dan Antisipasi Potensi Konflik Komunal dan Horizontal Sejak Dini, yang ditata Yayasan Gondang Baroguang di Hotel Pujangga.

Perlunya mencari upaya penyelesaian konflik pemilukada menurut Dian dikarenakan ditengah masyarakat saat ini masih tersisa permasalahan pemilukada, mereka masih terkesan ada nomor urut pemilukada dan masih kental terjadinya. “Kesbang Polinmas, cari upaya untuk menuntaskan ini,” pintanya.

Konflik ini tambahnya telah merusak tatanan kehidupan masyarakat, bahkan untuk urusan kenduri sampai kematian masih dikait-kaitkan dengan pemilihan umum kepada daerah.

Terkait hal tersebut, Sekretaris Kesbang Polinmas Drs. Yasriandi, MM yang kebetulan jadi nara sumber mengatakan kalau permasalahan pemilukada telah usai, terakhir dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Dalam pemilukada beberapa waktu lalu, tambah Yasriadi, penyelenggaranya Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), Panswas, sedangkan Kesbang Polinmas hanya bersifat tim koordinasi.

Meski demikian, permintaan masyarakat agar mencarikan upaya untuk menyelesaikan permasalahan ini, Yasriadi belum memberikan jawaban secara jelas, dan dia hanya berpesan kepada masyarakat jangan sampai terpecah belah akibat pemilukada ini, dan kembalikah seperti biasanya dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. (noprio sandi)

Teks fhoto
Antisipas-Seminar Pengamalan Pancasila dan Antisipasi Potensi Konflik Komunal dan Horizontal Sejak Dini Kakmis (27/10) di Hotel Pujangga, salah satunnya membahas konflik pemilukada Kuansing, Kesbang Polinmas diminta mencari upaya penyelesaian konflik itu. (noprio sandi)

Kuantan Tengah Juara Umum MTQ

Kecamatan Kuantan Tengah menjadi juara umum pada MTQ X tingkat Kabupaten Kuantan Singingi. Jadi juara saat camat di jabat Efrizon Marzuki, AP, M.Si. Padahal juara umum sebelumnya Kecamatan Inuman, yang saat itu, camatnya juga Efrizon Marzuki.


Keberhasilan Kecamatan Kuantan Tengah disaksikan bersama masyarakat saat penutupan MTQ X oleh Asisten I Drs. Syoffaizal, M.Si, bahkan sang camat Efrizon diminta maju untuk menerima hadiah bergilir di lapangan Kampung Baru.

Atas keberhasilan Kecamatan Kuantan Tengah menarik perhatian masyarakat, karena saat ini Camat Kuantan Tengah dijabat Efrizon Marzuki, AP, M.Si. Salah seorang warga yang tertarik Iyus, dia berani mengatakan kalau keberhasilan Kuantan Tengah erat kaitannya dengan keberhasilan camat.

Karena menurut Iyus, ketika Efrizon Marzuki menjadi Camat Inuman, kecamatan itu juga menjadi juara umum, dan sebelumnya juga pernah juara umum untuk Kecamatan Gunung Toar, yang camatnya juga Efrizon.

Efrizon dinilainya berhasil dalam menggemleng qori dan qoriah di kecamatan dimana dia ditugaskan, sementara qori dan qoriahnya sendiri berasal dari Kecamatan Kuantan Tengah sendiri.

Orang tua salah seorang anak Damar Kusi Majasius bernama Samsius yang menjadi juara pertama untuk Kecamatan Kuantan sangat gembira dengan pretasi yang diraihnya, kedua orang tua anak ini melihat secara langsung anaknya mendapatkan hadiah.

Namun demikian, untuk juara umum II diraih tuan rumah Kecamatan Gunung Toar, juara umum III Kecamatan Pangean, juara umum IV dari Kecamatan Inuman dan juara umum V dari Kecamatan Cerenti.

Kemudian dari pada itu, tidak semua qori dan qoriah yang berhasil juara tersebut berasal dari kecamatannya, melainkan juga yang berasal dari kecamatan lain, dalam artian qori/qoriah rental.

Sedangkan Camat Kuantan Tengah Efrizon Marzuki sampai berita ini diturunkan belum bisa diminta keterangan terkait kiat agar bisa berhasil, karena ketika dihubungi, telponya tidak diangkat.(noprio sandi)

Teks fhoto

Serahkan piala-Asisten I Drs. Syoffaizal, M.Si menyerahkan piala kepada Camat Kuatan Tengah Efrizon Marzuki, AP, M.Si Kamis (27/10) di lapangan Gunung Toar, karena kecamatan ini keluar sebagai juara umum MTQ X tingkat Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2011. (noprio sandi)

Konflik Kumunal dan Horizontal Perlu Diantisipasi

Konflik komunal dan horizontal di Kabupaten Kuantan Singingi harus diantisipasi sejak dini. Pengantisipasian ini dengan pengamalan Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang mulai heterogen.

Demikian kesimpulan acara seminar sehari Pengamalan Pancasilan dan Antisipasi Potensi Konflik Komunal dan Horontal Sejak Dini, Kamis (27/10) yang ditata Yayasan Gondang Baroguang di Hotel Pujangga Teluk Kuantan.

Seminar dengan tiga pemakalah, Willy Wirayudha, S.Ip dari Yayasan Bertuah Pekanbaru dengan topik “Pancasila di Era Globalisasi”, H. Mulkan M. Sarin, MA dari Forum Kerukunan Umat Beragama dengan topic “Sosialisasi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, Nomor 9 Tahun 2006/Nomor 8 Tahun 2006 dan Peraturan Bupati Kuantan Singingi Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pendirian Rumah Ibadah dan Pemanfaatan Bangunan Gedung Untuk Rumah Ibadat”.

Pemakalah ketiga Drs. Yasriadi, MM, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi dengan topik “Antisipasi Potensi Konflik Komunal dan Horizontal Sejak Dini”.

Seminar berlangsung alot, ketika terjadi pembahasan tentang pendirian rumah ibadah, karena saat ini di Kabupaten Kuantan Singingi banyak rumah ibadah minoritas berdiri tanpa izin resmi dari pemerintah setempat, sementara ada gereja yang telah ada sejak tahun 1982 sebelum Peraturan Bersama Menteri ada.

Setidaknya, ada beberapa solusi ditawarkan peserta kepada pendeta yang hadir saat itu, agar cukup dirikan satu rumah ibadah besar di Kuansing, tapi jangan berdiri rumah ibadah lainnya sebelum ada izin resmi

Dan ada yang mengusulkan sebelum kaum minoritas mendirikan rumah ibadah/gereja sebaiknya melakukan pendekatan secara adat kepada masyarakat tempatan terlebih dahulu, sehingga berkemungkinan bisa dengan mudah untuk mendapakan tanda tangan atau keihlasan masyarakat tempatan.

Ketua panitia penyelenggara Noprio Sandi, ST mengatakan seminar kali ini mengundang organisasi kemasyarakatan, berbagai suku bangsa, tokoh pemuda, tokoh adat, masyarakat rawan konflik serta LSM.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan potensi konflik komunal dan horizontal bisa diantisipasi sejak dini. (noprio sandi)

Teks fhoto

Seminar-Ketua Panitia Pelaksana Pengalaman Pancasila dan Antisipasi Potensi Konflik Komunal dan Horizontal Sejak Dini Noprio Sandi, ST mewakili Yayasan Gondang Baroguang menyampaikan laporan pelaksanaan seminar sekaligus membuka secara resmi acara tersebut. (noprio sandi)

PETI Makin Mengganas, Diskan Bangun 88 Petak kolam

Teluk Kuantan, Kondisi air sungai Kuantan dan ratusan anak sungai di Kuantan Singingi benar-benar sudah sangat mengkhawatirkan. Maraknya aktifitas PETI yang terdapat hampir diseluruh sungai dan anak sungai yang ada di Kuantan Singingi membuat kondisi air kian parah.

Keluhan masyarakat terhadap kondisi air yang sudah berubah warna seperti kopi susu dan kotor itu seakan tak digubris Pemkab. Aksi penertiban yang dilakukan pihak Polres sebelumnya seakan tak mengubah situasi.

Bahkan aktifitas PETI kian hari cendrung makin berani. Ketegasan Pemkab untuk menghentikan aktifitas berbahaya tersebut yang sudah lama dinantikan masyarakat tak jua kunjung terwujud. Pembiaran yang dilakukan pemerintah seakan memberi peluang kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan SDA itu dengan terbuka. Sehingga kebanyakan masyarakat sudah mulai muak dan lebih memilih menjadi pemain ketimbang menonton.

Dampaknya, hampir tidak ada lagi pemuda yang bermukim disepanjang bantaran sungai Kuantan dan anak-anak sungai lainnya menganggur. Bila dilihat dilapangan, aktifitas PETI sudah menjadi-jadi seperti tak terkontrol. Akibatnya, hampir tak satupun sungai di wilayah kabupaten Kuantan Singingi yang tersisa dari aktifitas PETI. Raungan mesin dompeng sudah tak lagi asing ditelinga masyarakat.

Secara langsung dampaknya juga berpengaruh buruk terhadap program dinas Perikanan kabupaten Kuantan Singingi. Geliat program di Balai Benih Ikan (BBI) Tesso di desa Marsawa milik dinas Pemerintah itu makin terseok, karena pasokan air bendungan Teso yang bersumber dari sungai Teso, sungai Jake, dan sungai Tingkalak juga tak luput dari ganasnya raung ratusan mesin dompeng PETI. Balai yang sudah mampu membina ratusan Kelompok Petani Ikan (Poktan) sejak beberapa tahun belakangan itu dan produksinya cukup bergairah, juga mulai tertatih-tatih.

Proses pembenihan bibit ikan jelas Kadis Perikanan Kuantan Singingi Ir Nasri kemaren siang (27/10), yang biasanya singkat, kini telah menelan waktu yang panjang. Kondisi air yang sangat keruh, membuat proses pembesaran ikan juga mengalami terkendala. Mantan Sekwan dan mantan Kadis Peternakan itu mengaku sangat khawatir dengan kondisi air di bendungan Teso. Untuk mengantisipasi kendala tersebut, Kadis mengaku merencanakan akan membuat sumur bor yang airnya akan diperuntukkan bagi proses pemijahan dan larva serta untuk pembesaran bibit.

Kendati sudah hampir seluruh sungai mengalami hal serupa, Kadis tetap optimis dengan program pengembangan Poktan yang sangat antusias disambut masyarakat. Untuk pengembangan program tahun ini tegas Kadis, Diskan memprogramkan pembangunan 88 Unit/petak kolam ikan yang tersebar di Kuansing. Diantaranya di kecamatan Kuantan Tengah, kecamatan Benai Kuantan Hilir dan Kuantan Mudik. Salah satunya di desa Seberang Teluk Kuantan, sebanyak 35 petak kolam ikan sudah memasuki tahap finishing.(ependri)

Banyak Interupsi, Paripurna Tertunda, Bupati "WO"

Teluk Kuantan,- Diduga terjadi miskomunikasi, Rapat Paripurna Dewan Rabu pagi (26/10) yang mengagendakan pengesahan APBD-P, batal. digelar. Rapat yang sudah dihadiri Bupati dan segenap anggota Muspida, sejumlah pejabat teras akhirnya terpaksa berhenti setelah Bupati H Sukarmis meminta Walk Out (WO) kepada Ketua DPRD yang baru saja membuka sidang paripurna. Bupati Sukarmis juga meminta seluruh pejabat dari SKPD untuk meninggalkan ruang paripurna.

Kericuhan bermula dari interupsi yang disampaikan anggota Badan Musyawarah (banmus) Tukemi. Tukemi yang langsung menghidupkan mikropon dihadapannya dan menyampaikan interupsi saat Sekwan baru menyampaikan pengantar itu, langsung menanyakan keabsahan Paripurna yang digelar tak sesuai jadwal. Menurutnya Paripurna diundur tanpa sepengetahuan anggota Banmus.

Padahal jadwal Paripurna dengan agenda penyampaian pendapat akhir fraksi yang sudah ditetapkan oleh Banmus dan sudah ditandatangani oleh Ketua DPRD mestinya kemaren Selasa (25/10).

Belum usai Ketua DPRD Muslim S.Sos menjawab, interupsi kembali mucul dari Aherson dan berturut-turut disambung Andi Nurbai, Konferensi dan Rustam Effendi,S.Sos yang meminta agar rapat ini dilanjutkan dengan rapat internal dan menyelesaikan sesuai Tatib. Pada waktu bersamaan, Bupati dan rombongan langsung mohon diri (WO) dan diikuti seluruh SKPD dan undangan.

Hingga saat ini, Sekwan Firdaus Bahar,SPd belum berhasil dihubungi untuk mengkonfirmasi kapan paripurna dewan tentang pengesahan APBD-P di gelar.(ependri)