Senin, 02 Januari 2012

PWI Perwakilan Kuansing Dipimpin Amrizal Amin




Untuk periode 2011-2014, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan
Kabupaten Kuantan Singingi dipimpin Amrizal Amin, SH. Beralihnya
tampuk kepemimpinan itu setelah dilaksanakan Konferensi Perwakilan II
PWI Perwakilan Kuantan Singingi, Jum’at (30/12) lalu.

PWI Perwakilan Kuantan Singingi yang sempat dipimpin Carataker
Hendrizal Roeslan telah berhasil mengantar terlaksanannya Konferensi
Perwakilan II PWI Kuansing dengan sukses, meski sempat terjadi rasa
pesimis hal itu akan terlaksana.

Dari beberapa orang anggota PWI Perwakilan Kuantan Singingi hanya enam
orang yang memiliki hak suara setelah dilakukan verifikasi oleh Mario
Abdillah Khair yang bertindak sebagai Presidium Sidang, selebihnya
kartu sudah mati, tidak berdomisili lagi di Kuansing, bahkan ada satu
suara yang telah memberikan surat mandat tenyata batal karena penerima
mandat tidak dibunyikan.

Dari enam yang memiliki hak suara sekaligus sebagai peserta, ternyata
hanya tiga orang yang telah aktif lebih dari satu tahun menjadi
anggota PWI berdasarkan kartu, Said Mustafa Husin, Amrizal Amin dan
Reflizar.

Oleh Presidum Sidang langsung saja diberi arahan agar dalam
penjaringan bakal calon hanya tiga nama tersebut yang bisa dicalonkan,
sementara satu calon yang termasuk dijagokan dalam kesempatan tersebut
Suhendi, SH terpaksa harus gagal mencalonkan karena terganjal tata
tertib yang telah disahkan minimal sudah satu tahun menjadi anggota.

Dari penjaringan bakal calon, keluar tiga nama tersebut dengan Said
Mustafa Husin (5 suara), Amrizal Amin (6 suara), Reflizar (3 suara),
suara penjaringan ini peserta diminta menuliskan dua nama, termasuk
dua hak suara dari unsure carateker dan PWI Cabang Riau.

Setelah terjaring tiga nama, Presdium Sidang menanyakan kesediaan
bakal calon untuk dicalonkan menjadi ketua, ternyata satu orang bakal
calon Said Mustafa Husin (mantan ketua PWI Perwakilan Kuansing
sebelumnya, red), tidak bersedia dicalonkan kembali, dan dua orang
lainnya, Amrizal Amin dan Reflizar bersedia, otomatis dua calon
mengkristal untuk dipilih.

Untuk pemilihan ketua, perserta dan peninjau harus memilih satu nama,
dengan delapan jumlah suara, semuanya memilih Amrizal Amin, termasuk
lawannya Reflizar tersebut. Dengan demikian Amrizal Amin terpilih
menjadi Ketua PWI Perwakilan Kuantan Singingi.

Saat menutup konferensi, Sekretaris PWI Cabang Riau Mario Abdillah
Khair menyatakan, masing-masing daerah di Riau memiliki kesan-kesan
unik dalam pelaksanaan konferensi perwakilan, kalau di Kuansing kesan
uniknya, Reflizar yang menjadi lawan Amrizal Amin malah juga memilih
Amrizal Amin.

Sementara itu, ketua terpilih PWI Perwakilan Kuantan Singingi Amrizal
Amin yang juga wartawan Rakyat Riau dalam pidato perdananya menegaskan
kalau dirinya akan bertekad menghilangkan batasan-batasan
(kelompok-kelompok, red) antara wartawan yang selama ini telah terjadi
di Kuansing. (noprio sandi)

Teks fhoto
Serahkan berkas-Sekretaris PWI Cabang Riau Mario Abdillah Khair
menyerahkan berkas Konferensi Perwakilan II PWI Perwakilan Kabupaten
Kuantan Singingi kepada Ketua PWI Perwakilan Kabupaten Kuantan
Singingi Amrizal Amin, SH, Jum’at (30/12) di Hotel latifa Teluk
Kuantan. (noprio sandi)

Foto-foto Konferensi Perwakilan Perwakilan II PWI Kabupaten Kuantan Singingi

Kamis, 29 Desember 2011

Banggar DPRD Batalkan Hibah Fisik Pagar Masjid Agung

Badan Anggaran DPRD Kabupaten Kuantan Singingi membatalkan hibah fisik
pembuatan teras plaza pagar Masjid Agung. Pembatalan itu terkait
takutnya tersandung masalah hukum dikemudian hari sekaligus membiarkan
yayasan yang berusaha mencari dana untuk mempercantik dan memperindah
masjid itu, termasuk agar ada peluang umat muslim untuk berinfaq dan
bersedekah.

"Namun ada satu hal yang perlu kami sampaikan yakni tentang hibah
fisik pembuatan teras plaza Mesjid Agung dengan anggaran lebih kurang
Rp 3,5 milyar, kami anggota Badan Anggaran dan seluruh anggota DPRD
pada waktu rapat interen sepakat agar tidak dianggarkan," kata Ketua
Badan Anggaran DPRD Kuansing Muslim, S.Sos melalui juru bicara Afri
dalam sidang paripurna DPRD Kuansing, Kamis (29/12) dengan agenda
Pendapat Akhir Badan Anggaran DPRD tentang Rancangan Peraturan Daerah
tentang APBD Kuansing 2012.

Masyarakat Kuantan Singingi lanjut Afri sangat bangga, bahwa Mesjid
Agung berdiri begitu megah disamping empat tugu carano disamping
gelanggang olah raga sport centre, namun sayangnya Mesjid Agung milik
dari sebuah yayasan, walaupun mulai dari lahan dan juga pembangunan
adalah hibah dari pemerintah daerah Kabupaten Kuantan Singingi,
Banggar mengkhawatirkan kalau dananya selalu mengharap hibah Pemkab
Kuansing akan menyalahi aturan.

"Jangan sampai gara-gara kita selalu ingin berbuat baik, malah
tersangkut masalah hukum. Biarlah yayasan yang berusaha mencari dana
untuk mempercantik dan memperindah Mesjid Agung tersebut, agar ada
peluang umat muslim untuk berinfaq dan bersedekah," kata Afri.

Kemudian mengenai pembelian mobil dinas bupati dan wakil bupati yang
sudah dianggarkan dn telah disahkan pada waktu perubahan APBD tahun
anggaran 2011, sampai sekarang belum juga dibeli, maka Banggar DPRD
menyarankan agar kembali dianggarkan pada tahun anggaran 2012, supaya
nanti jangan menyalahi aturan. (noprio sandi)

Belanja Kuansing 2012 Rp 1 T

Belanja daerah Kuansing tahun 2012 direncanakan sebesar Rp 1triliyun
lebih. Untuk mendapatkan anggaran belanja daerah dibutuhkan dana
perimbangan. Namun terkendala oleh kondisi pendapatan dana perimbangan
migas dari tahun ke tahun selalu fluktuatif. Pemerintah berjanji akan
mencarikan jalan keluar permasalahan tersebut.

Besarnya belanja daerah terungkap dalam sidang paripurna DPRD Kuansing
Kamis (29/12) dalam agenda Pendapat Akhir Badan Anggaran DPRD terhadap
Rancangan APBD Kuansing 2012. Badan Anggaran DPRD melalui juru bicara
Afri, menyebutkan, hasil pembicaraan yang telah dilaksanakan oleh
Badan Anggaran, Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun Anggaran 2012 terdiri dari 7 pasal dan XIII
lampiran, pendapatan daerah berjumlah Rp 972.309.398.200,- terdiri
dari PAD Rp 26.169.654.200,-, dana perimbangan Rp 857.407.210.000,-,
lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp 88.732.534.000,-.

Belanja daerah berjumlah Rp 1.002.434.398.200,-, terdiri dari belanja
tidak langsung Rp 471.471.221.488,01, belanja langsung Rp
530.963.176.711,99, pembiayaan daerah berjumlah Rp 30.125.000.000,00.
Belanja daerah sudah terbagi habis, dalam penganggaran yang disalurkan
melalui satuan kerja perangkat daerah dilingkungan pemerintah daerah
Kabupaten Kuantan Singingi.

Melalui sidang paripurna Afri juga menyampaikan bahwa peganggaran yang
telah disusun oleh Tim Anggaran Eksekutif (TAPD), telah memenuhi unsur
adil dalam pemerataan, dan telah pula dianggarkan dalam APBD 2012.
Kita jangan selalu mengulang dan mengulang kembali
keterlambatan-keterlambatan pelaksanaan kegiatan dengan bermacam
alasan yang kadang kala tidak masuk akal.

Hal ini disebutkan Afri perlu disampaikannya agar segala pembangunan
dapat sesegera mungkin dinikmati masyarakat. Dan jangan kondisi alam
yang tidak menentu selalu dikambinghitamkan atas keterlambatan
pelaksanaan kegiatan proyek.

Afri juga menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat Kuansing untuk
bergandeng tangan membangun Kuantan Singingi bersama pemerintah dan
bersama pula mengawasi kinerja pemerintahm andai kata ada terindikasi
kecurangan-kecurangan, brsama-sama pula memberikan masukan, kritikan
dan saran-saran melalui mekanisme dan prosedur yang benar dan tepat.

Afri juga mengajak masyarakat untuk menghilangkan semua perbedaan
dengan selalu menjalin hubungan silaturahmi, melenyapkan permusuhan
dengan selalu meningkatkan persaudaraan.

Sementara itu Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis dalam kesempatan
tersebut mencermati kondisi saat ini, dalam pelaksanaan pembangunan
pihaknya menghadapi berbagai kendala antara lain tingginya tingkat
ketergantungan pendapatan daerah kepada alokasi dana perimbangan
terutama dana bagi hasil migas yang jumlahnya dari tahun ketahun
mengalami fluktuatif, sementara kebutuhan daerah semakin meningkat.

Oleh sebab itu pihaknya berupaya mengintensifkan dan menggali potensi
atau sumber-sumber pendapatan asli daerah secara maksimal dan ramah
lingkungan . Untuk itu perlu dukungan bersama terutama legislatif,
karena akan diperlukan berbagai regulasi, tidak mungkin terus
mengharapkan/tergantung pada dana perimbangan saja(noprio sandi)

STAI KUANSING LAHIRKAN 168 SARJANA

TELUK KUANTAN ( VOKAL) - Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kabupaten
Kuantan Singingi telah mewisuda sebanyak 168 mahasiswa dari jurusan
PAI (Pendidikan Agama Islam) di gedung Abdurrauf Teluk Kuantan, Kamis
(29/12).

Selain dihadiri Ketua Ketua Kopertais Wilayah XII Riau Kepri STAI,
Prof. Dr. H. Muhammad Nazir, MA, juga dihadiri Sekda Kuansing Drs. H.
Muharman, M. Pd, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Islam, Alwis, Ketua
STAI Kuansing, Dr. Jamaluddin Rabbain serta sejumlah pejabat lainnya.

Ketua STAI Kuansing, Dr. Jamaluddin Rabbain dalam sambutannya
mengatakan, wisuda sarjana bukan akhir dari sebuah proses pendidikan.

Menurutnya, STAI Kuansing saat sekarang ini telah di dukung oleh
masyarakat, dan salah satu indikatornya adalah banyak yang mendaftar.

Buktinya, Mahasiswa STAI sekarang ini berjumlah sebanyak 937
mahasiswa, yang telah enam kali melakukan wisuda sejak berdiri tahun
2001.

“ Para mahasiswa tidak boleh berpuas diri pada hari ini dengan sarjana
yang baru saja disandangnya, karena langkah ke depan masih banyak
tantangan yang akan di hadapi,” paparnya.

Di kesempatan yang sama, Bupati Kuansing H. Sukarmis diwakili Sekda,
Drs. H. Muharman, M. Pd mengatakan Tantangan ke depan bagi mahasiswa
cukup berat, karena berada di era globalisasi. Oleh sebab itulah, para
alumni STAI agar dapat berperan serta dalam menghadapi era
globalisasi, dengan berbuat amar makruf nahi mungkar.

Dalam kesempatan tersebut, Sekda juga mengingatkan kepada para
wisudawan, untuk dapat mengabdi kepada masyarakat dan berkarya
membangun daerah sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari.

Kemudian katanya, selama ini perhatian pemerintah daerah terhadap
dunia pendidikan di Kuansing cukup besar, bahkan Pemkab juga
berkomitmen untuk meningkatkan pendidikan, tukasnya. ( Rep)***

Rabu, 28 Desember 2011

Tak Terima Sertifikasi, Guru Merasa Diintimidasi


Adanya guru yang tidak menerima dana sertifikasi merasa dirinya telah diintimidasi oleh pihak-pihak yang kurang senang kepadanya. Ternyata tidak dibayarkannya dana sertifikasi tersebut dikarenakan pembayaran harus sesuai dengan beban kerja.

Guru yang tidak menerima dana serifikasi tersebut menimpa Dr. Yusri, S.Pd, ST, MT guru SMK Negeri Singingi Hilir dan sebelumnya pernah menjadi guru di SMK Negeri I Teluk Kuantan.

Melalui selulernya Rabu (28/12), Yusri merasa kesal, dan kisahkannya sekirat sebulan yang lalu kelengkapan administrasi pencairan dana sertifikasi telah dilengkapi, tetapi akhirnya khusus Yusril pribadi tidak cair, dan dia merasa diintimidasi.

Mengapa merasa diintimidasi, Yusri melihat periode sebelumnya Januari-Juni 2011 sekitar 5 bulan yang seharusnya sudah bisa dibayarkan, tidak juga dibayarkan oleh pihak yang membayarnya.

Ketidakkeluaranya dana itu dikatakannya  sewaktu pengurusan oleh bendahara SMK Negeri I Teluk Kuantan mengalami keterlambatan bahan sampai ke Dinas Pendidikan, jadi setelah itu dirinya menyusul sekaligus mempertanyakan kepada pihak yang berkompeten di Dinas Pendidikan Drs. Linskar.

Dan saat itu, Linskar menurut Yusri mengatakan terjadi kesalahan teknis bendahara sekolah, dan waktu itu Linskar berjanji akan akan mengusulkan pembyaran untuk periode mendatang.

Bahkan waktu itu Yusri sempat mengingatkan agar bahannya jangan sampai hilang. Dan kembali dicek sekitar tiga minggu yang lalu mengapa belum juga dibayarkan dana sertifikasi dirinya untuk periode sebelumnya, bahkan bahan itu diserahkan secara kolektif bersama guru yang lainnya dari SMK I Teluk Kuantan, ternyata tidak juga dimasukkan, sementara teman-teman Yusri yang lain telah menerima dana sertifikasi tersebut.

Merasa tidak puas, Yusri ternyata kembali mempertanyakan kepada salah seorang pejabat lagi M Yanis, mengapa dana sertifikasi dirinya tidak keluar, dan dijawab M Yanis kalau dirinya tidak pernah melihat bahan Yusri masuk, sehingga menjadi tanda tanya besar kembali bagi Yusri.

Terkait hal tersebut, Drs. Linskar dihubungi mengatakan dalam pembayaran dana sertifikasi ada Permen yang mengaturnya, walaupun seorang guru sudah menyerahkan  dokumen kepada pihaknya, tapi kalau bertentangan dengan peraturan tidak dibayarkan.

Khusus Yusri kata Linskar bukan tidak dibayarkan, kebetulan waktu pemberkasan mengalami keterlambatan, orang sudah dibayarkan Yusri baru memberkas, tidak mungkin lagi diajukan ke kas negara, maka menunggu proses selanjutnya, ada tahapan-tahapannya. “Jadi mengenai Yusri Rasul itu ada peluang untuk dibayarkan, tapi tidak seluruhnya, karena kita hitung dari bulan Januari sampai bulan lima atau bulan enam,” tegasnya.

Karena waktu itu tambah Linskar Yusri bertugas di SMK Negeri I Teluk Kuantan, setelah itu dimutasikan ke Petai (SMK Negeri Singingi Hilir, red), beban kerjanya berdasarkan dokumen tidak lengkap. “Sedang kami proses, bukan kami tidak membayarkan,” katanya lagi memberi penekanan.

Dijelaskan Linskar, walaupun guru sudah lulus sertifikasi tidak mesti dibayarkan, apabila dibayarkan harus memenuhi beban kerja. “Mengajar 24 jam tatap muka di kelas, itupun yang diajarkan sesuai..profesi yang dimiliki, kalau sertifikasi konstruksi kayu, walaupun mengajar dia 24 jam matematika, itukan tidak relevan, harus ada kaitannya dengan serifikat konstruksi kayu tadi, seperti bangunan dan segala macamnya, itu yang diakui,” imbuh Linskar. (noprio sandi)

Teratak Butuh SMA


Empat desa Kenegerian Teratak Air Hitam dan Kelurahan Beringin Jaya Kecamatan Benai membutuhkan SMA. Lahan seluas 3 hektar telah disiapkan. Namun pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi belum bisa membantu sebelum ada swadaya masyarakat dalam bentuk SMA kelas jauh, termasuk harus sudah ada jebolan sekolah itu minimal satu angkatan.

Keinginan memiliki SMA dan diharapkan bantuan dari Pemkab Kuantan Singingi tersebut disampaikan tokoh masyarakat Kengerian Teratak Air Hitam dan Kelurahan Beringin Jaya Datuak Rajo Nan Putiah, Jum’at malam (23/12) di lapangan Tomas Teratak Air Hitam dalam acara Peringatan 1 Muharram 1433 H sekaligus syukuran atas terpilihnya pasangan Sukarmis-Zulkifli sebagai bupati dan wakil bupati.

“Dek jauh jarak cucu kemenakan kami tompek menimbo ilmu pengetahuan, makonyo kami ateh namo cucuang kemenakan, juo berharap agar bapak mambuekkan sekolah SMA. Yang lokasinya telah kami sediokan,” kata Datuak Rajo nan Putiah dengan dialek Kenegerian Teratak.

Sementara itu Camat Benai Andika Putra S.Ip menyatakan bahwa masyarakat Kenegerian Teratak Air Hitam dan Kelurahan Beringin Jaya, sangat mengharapkan berdirinya sekolah SMA. “Yang sudah disediakan tanahnya oleh masyarakat seluas lebih kurang 3 ha, yang lokasinya berada di Desa Teratak Air Hitam dan berjarak dari jalan poros Teratak Air Hitam ini lebih kurang 200 meter. Dan ini sudah kami siapkan surat tanahnya dalam bentuk Surat Keterangan Tanah,” kata Andika.

Namun demikian, Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis dalam kesempatan tersebut menyatakan keinginan masyarakat Kengerian Teratak Air Hitam dan Kelurahan Beringin Jaya belum bisa direalisasikan.

Karena menurut Sukarmis harus terlebih dahulu telah berdiri sekolah, makanya masyarakat serta kepala desa dan lurah di Kenegerian Teratak Air Hitam dan Kelurahan Beringin Jaya disarankan untuk mengadakan musyawarah terlebih dahulu.

Kalau perlu menurut Sukarmis bangun terlebih dahulu sekolah dengan swadaya dalam bentuk sekolah pilial atau kelas jauh dari Sentajo atau Benai, dan setelah itu untuk bisa mendirikan sekolah negeri seperti dimaksud harus sudah memiliki murid dan juga telah ada keluarannya minimal satu angkatan. “Apabila itu sudah terlaksana, kita bangun SMA,” janji Sukarmis. (noprio sandi)

BPMPKB SENTIL KANTOR KADES BANYAK TIDAK BUKA


TELUK KUANTAN ( VOKAL) - Dari 209 desa dan kelurahan yang ada di
kabupaten Kuantan Singingi, ternyata banyak kantor kepala desa yang
tidak buka, dan hanya sebagian kecil saja kantor kepala desa yang
membuka kantor setiap hari, untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat.

Sehingga sebagian besar masih tidak membuka kantornya setiap hari
untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, namun hanya membuka
kantor di rumah kepala desa itu sendiri. Hal ini tentu saja sangat
disayangkan sekali, karena setiap desa saat ini, sudah memiliki kantor
desa,

" Kalau kantor desa hanya buka di rumah saja dan tidak dimanfaatkan
sesuai dengan fungsinya, bagaimana memberikan pelayanan yang baik
terhadap warga masyarakatnya," papar Kepala BPMPKB Kuansing, H.
Asaruddin, S. Sos, MM pada pembukaan Bimtek Pelaporan dan
tanggungjawab ADD tahun 2011 di Hotel Khasanah Teluk Kuantan, Jum';at
kemarin.

Oleh karena itu, katanya, kepala desa harus dapat memberdayakan
perangkat desa yang ada secara bergilir, guna memberikan pelayanan
kepada masyarakat di kantor kepala desa, karena pemerintah telah
memberikan honorkepada perangkat desa dan BPD.

" Pemerintah telah memberi honor kepada kepala desa dan BPD, kenapa
kantor kepala desa tetap tidak buka, yang seharusnya dilakukan piket
secara bergilir untuk membuka kantor kepala desa tersebut," tuturnya.

Walaupun honor  masih relative kecil, tentu perlu ada kontribusi yang
jelas dari si penerima honor terhadap tugas-tugas yang diberikan
kepadanya. Jangan hanya menerima honor saja, akan tetapi tidak mau
melaksanakan tugas-tugas yang diberikan, sebutnya.

Selain itu, tambahnya, Alokasi Dana Operasional administrasi desa dan
BPD, serta dana pembangunan Infrastruktur desa ini harus dapat
dipertanggungjawabkan penggunaannya. Ini berpedoman pada aturan-aturan
sesuai dengan ketentuan penggunaan dana pemerintah dans ecara fisyk
pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan.

" Kita tidak menginginkan di belakang hari setelah dilakukan
pemeriksaan oleh lembaga yang berwenang masih terdapat
pekerjaan-pekerjaan fisyk yang tidaks elesai ataupun tidak sesuai
dengan Rencana Usulan kegiatan (RUK) dan Rencana Anggaran Biaya
(RAB)," tegasnya.

Sehingga akan dapat menjadi temuan Badan Pemeriksa keuangan, dan
berharap agar dapat melaksanakan kegiatan ADD ini secara
sungguh-sungguh sesuai dengan perencanaan,s ebutnya.

Sebab, Bupati Kuansing telah mentargetkan untuk tahun 2011 dan 2012
laporan keuangan pemkab Kuansing mencapai target WTP (wajar tanpa
pengecualian), hal ini dapat tercapai apabila pengguna anggaran
pemerintah telah melaksanakan sistem pertanggungjawaban keuangan
sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, himbaunya. (
Rep)***