Kamis, 24 November 2011

Kemacetan SDN 002 Teluk Kuantan, Berlanjut

Meski sering menjadi sorotan media massa, kemacetan di SD Negeri 002 Teluk Kuantan terus berlanjut. Seperti tidak ada upaya dari pihak terkait untuk mengatasi permasalahan macet tersebut.

Berdasarkan pengamatan, Kamis (24/11), saat pulang sekolah, Jalan Ahmad Yani persis di depan SD Negeri 002 Teluk Kuantan mengalami kemacetan mulai pukul 13.15 sampai 13.30 WIB, kondisi ini berlangsung setiap hari saat jam sekolah.

Kemacetan ini diperkirakan oleh ramainya kendaraan orang tua murid yang menjemput anaknya pulang sekolah secara serentak, mulai dari kendaran roda dua hingga roda empat, mereka parkir didua sisi jalan, sementara ruas jalan ini cukup kecil.

Terkait kondisi tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Hernalis, S.Sos menyatakan kalau kemacetan yang ada di SD Negeri 002 Teluk Kuantan akan segera diatasinya.

Langkah antisipasi yang paling tepat menurut Hernalis dengan menurunkan petugas dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi pada jam-jam kemacetan tersebut, terutama saat jam pulang sekolah. “Kita akan turunkan petugas ke sana,” katanya singkat. (noprio sandi)

Teks fhoto

Macet SDN 002-Ruas jalan Ahmad Yani persis di depan SD Negeri 002 Teluk Kuantan setiap jam pulang sekolah selalu macet, kemacetan ini terus berlanjut. Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Hernalis, S.Sos berjanji akan menurunkan petugas mengatasi kemacetan tersebut. (noprio sandi)

Petani Kuansing Terancam Tak Bercocok Tanam

Kekhawatiran ratusan petani se-kenegerian Sentajo tampaknya bakal menjadi kenyataan. Semaian yang sudah berumur 30 hari terancam tak bisa ditanam dan akan kadaluarsa. Kondisi itu diperparah karena munculnya banjir bandang secara mendadak beberapa waktu lalu.

Banjir yang diduga kiriman dari hulu sungai Kuantan itu tiba-tiba merendam ratusan ha sawah siap tanam dan tak terkecuali semaian padi milik petani yang sudah berumur genap 1 bulan dibeberapa tempat.

Justru yang paling mengkhawatirkan jelas Ependri, salah seorang warga asal Sentajo belum lama ini adalah semaian yang bakal kadaluarsa. Paling lambat seminggu yang lalu mestinya semaian sudah harus dicabut dan harus sudah ditanam langsung karena sudah berumur 30 hari.

Lewat 30 hari bibit padi tersebut menurut Ependri sudah lewat umur dan biasanya tak mau berbuah. Jadi umur semaian yang sudah harus ditanam adalah antara 25 hingga 30 hari.

Namun dari pengakuan petani lainnya ditempat berbeda tambah Ependri justru mengkhawatirkan kalau sebagian besar petani di Kenegerian Sentajo terpaksa akan menyemai ulang karena selain umur semaian sudah kadaluarsa, sebagian semaian sudah layu dan mati karena terendam banjir bandang selama 2 hari.

Kalaupun ada semaian yang tak terendam banjir, petani juga takkan bisa memulai bercocok tanam karena lahan persawahan yang masih terendam. Kekhawatiran petani juga semakin mendalam karena kondisi cuaca yang tak menentu dan cenderung semakin ekstrim dan terus memburuk dan memprediksi banjir yang sudah mulai bergerak surut, akan datang lagi.

Bahkan beberapa petani di kawasan Barua Koto, Jalan Panjang dan di kawasan lainnya di Koto Sentajo yang semaiannya terancam mati, berharap dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi dapat membantu benih bagi petani untuk membuat semaian baru.

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Tanaman Pangan Kuansing Ir. Hardison, MP mengatakan kalau untuk lokasi Sentajo sampai saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti lokasi semaian yang terendam tersebut, karena sampai saat ini belum ada yang melapor. (noprio sandi)