Jumat, 03 Juni 2011

Cerenti: Perbatasan Inhu-Kuansing Akan Dibuat Taman & Gerbang

Perbatasan antar kabupaten, Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi direncanakan akan dibuat taman. Desain taman telah dibuat dan proses penyelesaian ganti rugi tanah juga telah diselesaikan dengan baik sehingga diperkirakan program ini akan berjalan dengan baik.

Untuk desa yang ada di kawasan Kabupaten Kuantan Singingi bertepatan dengan Desa Pesikaian Kecamatan Cerenti, namun tanah dikawasan perbatasan itu dimiliki oleh warga Kabupaten Indragiri Hulu sebanyak tiga orang sebagai lokasi rencana pembangunan gerbang dan taman.

Tidak mudah membuat tapal batas dalam bentuk permananen apalagi dilengkapi dengan taman, kecuali titik batas telah ditetapkan secara sah dan tidak ada sengketa serta keberatan dari kedua belah pihak daerah yang berbatasan.

Indragiri Hulu merupakan kabupaten induk dari Kabupaten Kuantan Singingi, tentu pembuatan tapal batas di kawasan Kuantan Singingi akan memberikan tanda masuk secara kasat mata ketika kita masuk ke Kabupaten Kuantan Singingi dari Kabupaten Indragiri Hulu.

H Sapri, kepala Desa Pesikaian Kecamatan Cerenti memperkirakan pembangunan taman serta gerbang batas itu tidak akan menimbulkan permasalahan, karena dirinya telah bertemu dengan tiga orang warga Indragiri Hulu pemilik tanah dikawasan perbatasan itu.

Bahkan tanah yang direncanakan sebagai tempat taman dan gerbang itu telah terdata dengan baik termasuk berapa luas lahan yang akan dibebaskan untuk kepentingan pembangunannya, tiga orang itu, Sawyan seluas 733 m2, Inan seluas 1.775 m2, Umar Oesman seluas 270 m2.

Dari hasil pertemuan Spari dengan pemilik tanah itu, semuanya tidak keberatan jika dikawasan itu dibangun taman serta gerbang perbatasan dan ini telah diselesaikan dengan baik sehingga sudah masuk kepada tahap selanjutnya.

Lokasi perbatasan yang akan dibangun ini tidak serta merta bisa diluruskan saja, melainkan harus butuh proses pelurusan, karena lokasi jalan dikawasan ini agar menikung, otomatis kedua sisi jalan itu harus diluruskan.

Itu ditingkat desa, kepala desa mengaku tidak ada masalah lagi, bagaimana untuk tingkat kecamatan, Camat Cerenti Arlis, S.Sos mengaku juga rencana pembangunan gerbang dan taman di kawasan perbatasan ini pada titik di kawasan Kabupaten Kuantan Singingi, bukan di kawasan Indragiri Hulu.

Panjang tanah yang terpakai sepanjang 84,5 m dan kedua sisinya terpakai tanah sepanjang 21,5 m oleh Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Kuantan Singingi menggunakan APBD Kabupaten Kuantan Singingi sehingga batas antara Kabupaten Kuantan Singingi dengan Kabupaten Indragiri Hulu nanti akan terlihat jelas. (noprio sandi)

Camat Cerenti Arlis S.Sos dan Kepala Desa Pesikaian H Sapri membahas rencana taman dan gerbang batas. (noprio sandi)


Kepala Desa Pesikaian Kecamatan Cerenti H Sapri. (noprio sandi)

Gambar rencana gerbang dan taman perbatasan Kabupaten Kuantan Singingi dengan Kabupaten Indragiri Hulu. (noprio sandi)

Cerenti-Pelimpahan Kewenangan Pasar Masih Setengah Hati

Setelah berjalan pelimpahan kewenangan pengelolaan pasar kepada pihak kecamatan, setelah dilakukan evaluasi ternyata pelimpahan ini masih setengah hati. Karena masih banyak kewenangan yang masih di pegang Dinas Pasar Kebersihan dan Pertamanan.

Pasar di kecamatan merupakan satu-satunya areal pusat perekonomian masyarakat, termasuk pasar Cerenti, setelah dievaluasi masih dikeluhkan pelimpahan kewenangannya, diantara yang telah dilimpahkan gaji petugas kebersihan, pemungutan PAD.

Menurut pengakuan Camat Cerenti Arlis S.Sos, saat rapat evaluasi yang telah dilakukan bersama Dinas Pasar Kebersihan dan Pertamanan, semua kecamatan mengeluhkan kewenangan yang dilimpahkan yang masih bersifat setengah-setengah.

Padahal masyarakat menilai kalau pelimpahan itu telah diberikan sepenuhnya kepada pihak kecamatan, sehingga berbagai kewenangan telah menjadi kewenangan pihak kecamatan, jika tidak beres tentu yang disalahkan masyarakat umum juga pihak kecamatan.

Tak diketahui secara pasti apa alasan Dinas Pasar Kebersihan dan Pertamanan melimpahkan kewenangan pasar tidak utuh, diantaranya terkait pembenahan drainase, lampu pasar serta berbagai jenis kegiatan fisik lainnya.

Alasan Dinas Pasar Kebersihan dan Pertamanan kepada sejumlah camat karena berbagai prosedur tender harus diikuti untuk membangun drainase, lampu pasar serta berbagai kegiatan fisik lainnya sehingga masih menjadi kewenangan Dinas Pasar Kebersihan dan Pertamanan ketika diminta penjelasan dari sejumlah camat dalam rapat evaluasi itu.

Padahal sebaiknya tidak demikian. “Karena itu kami menilai pelimpahan kewenangan itu masih setengah hati,” keluh Arlis.

Yang telah diserahkan terkait tenaga kebersihan, gaji petugas kebersihan itu memang sudah ada pada pihak kecamatan sehingga berbagai keperluan terhadap kebersihan sudah mulai bisa terpenuhi dengan baik meski masih ditemukan berbagai kekurangan.

Pelimpahan juga telah dilakukan untuk urusan pungut memungut untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Dinas Pendapatan, dinas ini perlu acungi jempol karena telah memberikan kepercayaan penuh kepada pihak kecamatan.

Namun masih disayangkan juga, insentif juru pungut untuk masih tidak jelas dananya, hasil yang didapat hanya untuk keperluan pencapaian target PAD, sementara komisi atau gaji juru pungut tidak jelas sumbernya sehingga menjadi permasalahan lagi oleh pihak kecamatan.

Di Cerenti, pasar yang digelar setiap hari Senin itu ternyata sudah sangat ramai, dimana pedagang kaki lima yang berjualan di pasar ini telah memenuhi sejumlah ruas jalan di pasar, padahal sebelumnya tidak seramai itu, menandakan peningkatan ekonomi masyarakat telah terlihat.

Seorang pedagang Aan mengaku pada hari pasar itu yang berbelanja memang masih didominasi masyarakat sekitar dan belum begitu ramai dari karyawan perusahaan, karena jarak yang masih jauh dari berbagai lokasi perusahaan. “Sedikit karyawan Cerenti Subur yang datang ke sini, pakai sepeda motor, menyeberang lewat kompang,” kata Aan. (noprio sandi)

Sejumlah pedagang di Pasar Cerenti ketika pagi hari. (noprio sandi)

Cerenti Mulai Bangkit

Kecamatan Cerenti ternyata saat ini mulai bangkit, kebangkitan itu ditandai dengan semakin bersatunya masyarakat Cerenti. Ditandai dengan ramainya masyarakat Cerenti yang hadir dalam acara halal bi halal antara masyarakat Cerenti dengan Bupati Kuansing H Sukarmis. Kebangkitan ini apakah akan bisa dipertahankan sampai nantinya.

Pemeritah saat ini ternyata telah memberikan proporsi yang cukup besar kepada masyarakat Cerenti untuk menduduki jabatan penting di jajaran Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, mulai dari kepala dinas, kabag penting serta sejumlah camat.

Kepala dinas yang berasal dari Cerenti dibeberkan Sukarmis saat halal bi halal, Ersywan, S.Pi, M.Si, Keuangan Nafrial, SE, kalau camat sebanyak 5 orang, Efrizon Marzuki AP, M.Si, sekarang menjadi Camat Kuantan Mudik, Yulpides, saat ini menjabat Camat Inuman, Hendra AP, M.Si saat ini menjabat Camat Singingi, Erdiansyah S.Sos saat ini menjabat Camat Benai dan Camat Cerenti sendiri Arllis, S.Sos.

Salah seorang tokoh Cerenti tersebut Nafrial menjadi ketua panitia halal bi halal masyarakat Cerenti dengan Bupati Kuasing H Sukarmis, dikatakan halal bi halal itu mendatangkan sejumalah masyarakat di Cerenti termasuk tokoh masyarakat Cerenti yang ada di perantauan.

Ini menandakan Cerenti sudah bangkit dari keterpurukan selama ini, bahkan diakuinya berbagai pembangunan telah banyak diterima Cerenti dan ini semoga terus bisa ditingkatkan pada masa yang akan datang.

Camat Cerenti Arlis, S.Sos mengaku gembira dengan ramainya masyarakat Cerenti hadir daalam acara halal bi halal, ini berkat kerja sama antara masyarakat dengan pemerintah kecamatan Cerenti, untuk pemesanan nasi bungkus saja mencapai 1.700 bungkus, itupun tidak cukup, maka dia memperkirakan lebih dari 2.000 orang yang hadir.

Selain yang hadir masyarakat, juga terlihat hadir tokoh Cerenti, diantaranya Supriati Mahdili anggota DPRD Provinsi Riau, Adrian Ali serta sejumlah tokoh lainnya, mereka ikut bersalam-salaman dengan masyarakat bersama Bupati Kuansing H Sukarmis dan Sekda Drs H Zulkifli, M.Si. (noprio sandi)

Sukarmis bersalaman dengan masyarakat Kecamatan Cerenti dalam acara Halal Bi Halal (15/9) lalu. (noprio sandi)

Nafrial salah seorang tokoh Cerenti. (Noprio sandi)

Supriati Mahdili, juga tokoh Cerenti yang sering turun menemui masyarakatnya. (Noprio sandi)

Bina Marga dan Sumber Daya Air

Teruskan Jalan Pucuk Rantau Yang Belum Selesai

Jarak Pantai Lubuk Ramo Pucuk Rantau Kecamatan Kuantan Mudik – Teluk Kuantan sudah bisa ditempuh 1 jam perjalanan. Tidak lagi seperti momok yang menakutkan masyarakat sebelumnya. Meski masih ada jalan yang harus diteruskan terutama pengaspalan dan penggantian jembatan kayu menjadi box culvert. “Pucuk tidak lagi di rantau”.

Ketika memasuki Desa Sangau dari Lubuk Jambi, jalan aspal telah mulus, kondisi ini terus sampai salah satu lokasi eks sawmill, jembatannya juga sudah terbuat dari beton untuk sungai-sungai kecil dalam bentuk box culvert.

Tiba-tiba, laju kendaraan harus di rem mendadak, karena jalan aspal telah habis, dijumpai jalan perkerasan dengan batu yang cukup mengganjal roda kendaraan meski tidak berlobang lagi, termasuk jembatan kayu yang akrab menjadi teman jalan ini.
Jantung menjadi berdetak kencang, seberapa jauhkan jalan ini yang harus ditempuh masyarakat Pucuk Rantau setiap harinya?, ya dijalani saja, untuk bisa mencapai Desa Pantai dan Desa Lubuk Ramo mudah-mudahan tidak terlalu lama.

Pertanyaan itu mulai terjawab, di pertengahan Desa Lubuk Ramo, kembali ditemukan jalan beraspal, maka rasa lega itu kembali datang, dan kecepatan kendaraan masih bisa dipacu hingga sampai ke Pasar Desa Pantai.

Awal November 2010, sejumlah pejabat Kuansing termasuk Bupati Kuansing H Sukarmis melewati ruas jalan itu untuk membuka turmanen sepak bola Bupati Cup I di lapangan Desa Pantai, jalan lingkar menuju lapangan ini kembali tidak diaspal alias jalan perkerasan lagi.

Tokoh masyarakat tiga desa, Air Buluh, Pantai dan Lubuk Ramo, Drs Mardizal sempat mengungkapkan kepada pejabat Kuansing yang hadir saat pembukaan turnamen sepak bola itu, dimana dalam bidang transportasi jarak antara ibu kota kecamatan di Lubuk Jambi sampai ke desa terjauh Desa Perhentian Sungkai berjarak 78 KM.

Jarak ini tidak jarak yang mudah ditempuh, karena harus melintasi sejumlah sungai, mulai sungai Kecundung, Kalulukin, Tambotuang, Lulu Mandi serta sejumlah sungai lainnya dengan melintasi jembatan.
Ada jembatan yang melintasi sungai itu masih terbuat dari kayu, tentunya masyarakat menginginkan jembatan kayu ini diganti dengan box culvert agar transportasi menjadi lebih lancar. “Teruskan jalan yang belum selesai”, pintanya tentu kepada Bupati Kuansing H Sukarmis.

Masyarakat meminta, permintaan itu dengan harapan bisa dikabulkan oleh pemerintah. Tinggi makna kalimat teruskan jalan yang belum selesai, ini bisa kemungkinan diartikan meneruskan jalan yang belum selesai dengan melanjutkan kembali kepemimpinan Sukarmis dimasa yang akan datang dengan pasangannya.

Ternyata memang benar, turnamen sepak bola itu dijadikan ajang oleh Sukarmis untuk memperkenalkan pasangannya yang akan maju pada pemilukada 2011-2016 mendatang, dimana Sekda Kuansing Drs H Zulkifli diminta untuk meresmikan sepakbola itu.

Sukarmis saat itu hanya bisa mengatakan untuk pembangunan sarana dan prasarana Pucuk Rantau 2011-2016 siap, akan dibangun, tidak ada alasan tidak siap. “Lai Pecayo?”, tanya Sukarmis kepada masyarakat yang dijawab “Lai”, oleh masyarakat serentak.

Zulkifli tidak mau ketinggalan, ketika disuruh meresmikan sepak bola, dia juga memberikan komentar singkat dimulai dari kepemimpinan Sukarmis dari tahun 2006-2011 sudah sangat teruji, dan itu telah dipuji oleh kabupaten lain. (noprio sandi)

Salah satu jembatan kayu yang dijumpai menuju kawasan Pucuk Rantau Kecamatan Kuantan Mudik. (noprio sandi)

Bupati Kuansing H Sukarmis bersama Kapolres AKBP Ristiawan Bulkaini SH dan Ketua DPRD Muslim S.Sos mengunjungi Pucuk Rantau awal November 2010. (noprio sandi)

Sekda Kuansing Drs H Zulkifli, M.Si berjalan bersama anggota DPRD Kuansing Afri asal Pucuk Rantau dan Sekretaris Dinas Pendidikan Badril di lapangan Desa Pantai Kecamatan Kuantan Mudik. (noprio sandi)

Bina Marga dan Sumber Daya Air-Jembatan Sikakak Tinggal Satu Bentang

Perjuangan Panjang Menopang Ekonomi

Apa sebenarnya yang diharapkan masyarakat dari penyelesaian jembatan Sikakak Kecamatan Cerenti, tidak lain hanyalah untuk menopang perekonomian. Lalu hubungannya apa, tentu perlu ditelusuri secara mendalam. Jembatan ini tinggal satu bentang lagi, penggerjaannya seperti tertatih-tatih, sejak Bupati Kuansing Drs H Asrul Ja’afar sampai sekarang periode Bupati Kuansing H Sukarmis akan berakhir jembatan ini tak kunjung selesai.

Pembangunan jembatan ini ternyata menggunakan dana APBD Provinsi Riau, yang namanya dana propinsi, tentu tidak semudah yang dibayangkan untuk bisa berebut dana tersebut, Kuansing memang bagian dari Provinsi Riau, tapi tidak semua bagian pembagian diperuntukkan bagi Kuansing, melainkan masih dipergunakan oleh keperluan di 12 kabupaten/kota.

Kontributor Sentral Kuansing di Cerenti Faisal mengajak melihat langsung keberadaan jembatan Sikakak, saat itu masih terlihat pekerja sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka, padahal hari mendekati waktu magrib, mereka masih berada sebagian di atas bentangan baja.

Jika bentangan ini selesai, maka tinggal satu bentangan lagi, jembatan ini tersambung dan bisa difungsikan, dan kalau melihat konstruksi jembatan, bisa dipergunakan untuk dilalui kendaraan berat perusahaan, baik yang mengangkut hasil perkebunan maupun hasil hutan.

Beranjak dari jembatan itu, kami menuju kediaman kepala desa, ternyata saat itu kepala desa sedang ada acara di kantor camat, belum pulang dan hanya ditemui istrinya, sayang tidak bisa didapat penjelasan lebih lanjut tentang keadaan sebenarnya jembatan itu.

Namun ketika mengunjungi pasar Cerenti, seorang pedagang bernama Aan mengatakan, kalau saat ini pasar Cerenti mulai bergairah, terutama pada saat hari pasar, pedagang mulai ramai dan pembeli mulai ramai, kondisi ini didukung semakin banyaknya karyawan dari berbagai perusahaan yang ada di sekitara Cerenti.

Aan mengetahui, meski belum ada jembatan sejumlah karyawan perusahaan seperti PT Cerenti Subur yang ada di seberang Pasar Cerenti ternyata mereka tetap berupaya pergi ke pasar Cerenti menggunakan kendaraan roda dua menggunakan moda kompang.

Makanya, Aan tidak berandai-andai kalau seandainya jembatan Sikakak Cerenti selesai dan bisa difungsikan, perekonomian Cerenti akan bergairah seperti berbagai kecamatan lainnya di Kuansing yang ditopang oleh sejumlah perusahaan.(noprio sandi)


Sejumlah pekerja terlihat menyelesaikan salah satu bentang jembatan Sikakak Cerenti, jembatan ini tinggal satu bentangan lagi. (noprio sandi)

Benai-Tukang Las Kesulitan Modal

BENAI-Saat ini sejumlah pengusaha kecil di Kuasing kesulitan mendapatkan bantuan permodalan. Karena berbagai bantuan permodalan yang digulirkan melalui dana pusat maupun daerah kurang diketahui masyarakat secara luas. Satu-satunya harapan mengharapkan bantuan perbankan, itupun prosedurnya sangat sulit bahkan sering ditolak.

Setidaknya demikian yang dialami Ikas, pemilik bengkel las Arga Benkel Las Desa Pulau Ingu Kecamatan Benai belum lama ini di kediamannya. “Sangat sulit mendapatkan bantuan modal,” keluh Ikas.

Padahal order barang yang akan dilas saat ini menurut Ikas sangat banyak, namun karena kekurangan modal, pesanan itu terpaksa harus ditunda dulu sampai mendapatkan permodalan untuk kelancaran usaha.

Jika mengharapkan uang muka dari orang yang memesan, hal tersebut menurut Ikas sangat sulit karena yang memesan biasanya hanya memberikan uang muka dengan nominal yang kecil, sehingga tidak mencukupi untuk membeli bahan besi yang akan dikerjakan.

Bantuan permodalan yang didengung-dengungkan pemerintah, baik pemerintah pusat sampai ke daerah menurut Ikas tidak diketahuinya sama sekali, sehingga saat ini dia seperti berlayar tidak memiliki kompas untuk mendapatkan permodalan.

Pernah diupayakan mencari permodalan dari berbagai perbankan, namun hasilnya menurut Ikas nihil sama sekali, bahkan bank malah serta merta menolak memberikan permodalan dengan alasan yang kurang diketahui.

Oleh sebab itu Ikas mengharapkan agar permodalan yang ada saat ini lebih memberikan prioritas kepada pengusaha kecil yang membutuhkan bukan kepada pengusaha yang telah memiliki modal banyak. (noprio sandi)

Benai-Selesaikan Permasalah Ditingkat Desa Terlebih Dahulu

Kecamatan Benai termasuk salah satu kecamatan yang masyarakatnya sering bergejolak, bahkan gejolak itu sampai melibat aparat kepolisian untuk pengamanan. Sehingga perlu formulasi untuk meredam berbagai gejolak ditengah masyarakat, diantaranya dengan menyelesaikan permasalahan pada tingkat desa terlebih dahulu.

Camat Benai Erdiansyah S.Sos pernah berharap di salah satu desa Kecamatan Benai agar dalam menjalankan roda pemerintahan perlu menjadikan suasana yang sudah kondusif tetap lebih kondusif. “Saya tidak ingin terjadi kejadian-kejadian yang telah berlalu, di Muara Langsat dengan di Geringing Jaya. Yang justru akan menyibukkan, yang justru akan menyulitkan kita-kita sendiri, ini harapan kita,” kata Erdiansyah.

Kejadian itu telah berlalu, Erdiansyah menginginkan kejadian yang sudah berlalu itu biarlah berlalu dan diajaknya untuk menatap masa depan yang lebih baik sehingga hal-hal itu tidak terjadi lagi. “Jangan sampai kita terjatuh pada lubang yang sama. Ini harapan kita. Tidak ada permasalahan yang tidak bisa kita selesaikan, mari kita selesaikan dengan jalan yang terbaik, sehingga ada porsi-porsinya,” kata Erdiansyah.

Kalau ada permasalahan, dia menyarankan agar diselesaikan dengan baik di tingkat desa, jangan mudah terpropokatori oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan mengambil kesempatan untuk menghancurkan kehidupan yang sudah kondusif di desa.

Dan kepada kepala desa, Erdiansyah menyarankan untuk meneruskan pembinaan sosial kemasyarakatan, sehingga hal-hal yang rasanya rawan, perlu dikoordinasikan dengan pemerintah kecamatan jika tidak bisa lagi diselesaikan pada tingkat desa. (noprio sandi)

Benai-50 Persen Desa Kecamatan Benai Belum Dapat Kantor

BENAI-50 pesen desa yang ada di Kecamatan Benai belum mendapatkan pembangunan kantor kepala desa, sedangkan 50 persen lagi telah dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi. Oleh sebab itu, kedepan pembangunan kantor kepala desa ini perlu digesa.

“Dari 26 desa, 24 desa dan 2 kelurahan, mungkin masih ada 50 persen yang belum mendapatkan kantor kepala desa, sehingga pada kesempatan ini kita harus mengucapkan terima kasih kepada pemerintah kabupaten Kuantan Singingi melalui camat, “ kata anggota DPRD Kuansing Riyono, Jum’at (23/4) ketika peresmian kantor Kepala Desa Langsat Hulu Kecamatan Benai.

Riyono mengharapkan, Desa Langsat Hulu yang telah mendapatkan pembangunan kantor kepala desa, diharapkan untuk merawatnya. “Terkait dengan pembangunan kantor kepala desa Langsat Hulu, yang sama-sama sudah kita lihat bentuk dan rupanya, saya selaku DPRD Kuantan Singingi mengharapkan kepada pemerintah desa Langsat Hulu dan juga dapat melakukan perawatan,” pintanya.
Perawatan tersebut menurutnya, karena untuk diketahui, pembangunan kantor ini menggunakan dana APBD yang cukup besar. “Kita harus syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, masih banyak desa-desa lain di Kecamatan Benai ini yang belum merasakan atau mendapatkan kantor seperti yang kita lihat sekarang ini, “ kata Riyono.

Sementara itu, hal tersebut diakui Camat Benai Erdiansyah S.Sos. “Dari 26 desa yang ada di Kecamatan Benai, betul apa yang disampaikan anggota dewan tadi, baru 50 persen yang terakomodir yang bisa menikmati bangunan kantor kepala desa ini,” kata Erdiansyah.

Namun demikian, untuk desa yang ada dikawasan ekstransmigrasi, semuanya menurut Erdiansyah telah mendapatkan pembangunan kantor kepala desa. “Namun Alhamdulillah, untuk desa-desa yang di atas, sudah semuanya mendapatkan fasilitas yang bagus, satu mungkin, Desa Marsawah yang perlu direhab dan perlu direvitalisasi,” kata Erdiansyah.(noprio sandi)


Camat Benai Erdiansyah SSos, jum'at (23/4) tahun 2010 meresmikan penggunaan dan pemakaian gedung kantor kepala desa Langsat Hulu dengan melakukan pengguntingan pita bersama anggota DPRD Kuansing asal Langsat Hulu Riyono. (istimewa)



Camat Benai Erdiansyah S.Sos foto bersama dengan anggota DPRD Kuansing Riyono, Sariham dan Aherson serta masyarakat Desa Langsat Hulu di depan kantor kepala desa mereka yang baru, Jum;at 23 April 2010. (noprio sandi)

Kesbangpolinmas-Maulid Nabi Muhammad SAW, Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Di Surau Nurul Hidayah Seberang Pantai

Bupati Kuansing H Sukarmis bersama Plt. Sekda Drs. Muharman, M.Pd pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Seberang Pantai Kecamatan Kuantan Mudik. (Dok. Pewarta)

Sepintas lalu, sebuah surau yang terletak di Desa Seberang Pantai Kecamatan Kuantan Mudik hanya seperti surau biasa. Namun tidak bagi Sukarmis, surau ini ternyata memiliki nilai sejarah yang tinggi, dimana di surau ini dirinya pernah didoakan untuk bisa menang dalam pemilihan kepala daerah 2006-2011. Doa itu dipanjatkan ketika mau berangkat pergi kampanye di kecamatan itu.

Mungkin itu dianggap suatu keberuntungan bagi Sukarmis, namun keberuntungan tersebut sepertinya tetap diharapkan pada pemilukada kali ini (2011-2016), dimana diawal tahun 2011, dirinya menyempatkan diri untuk bersama masyarakat yang tergabung dalam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, suatu peringatan yang sekaligus pertemuan dengan sejumlah kader Perti di Kecamatan Kuantan Mudik.

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Persatuan Tarbiyah Islamiyah Kecamatan Kuantan Mudik Parman, MM mengatakan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksakan Pengurus Ranting Tarbiyah Islamiyah Desa Seberang Pantai dan di backup Pengurus Anak Cabang (PAC) Tarbiyah Islamiyah Kecamatan Kuantan Mudik, menghadirkan warga Tarbiyah yang betul-betul dalam hatinya masih kuat memegang ahlusunnah waljamaah.

Untuk itu kegiatan Peringatan Maulid merupakan puncak dari pelaksanaan wirid bulanan tahun 2010 karena Persatuan Tarbiyah Kecamatan Kuantan Mudik setiap tahunnya melaksanakan wirid bulanan dan diakhiri dengan peringatan Maulid Nabi pada tahun 2011.

Sementara itu Camat Kuantan Mudik Efrizon Marzuki, AP, M.Si dalam kesempatan tersebut mengatakan warga Tarbiyah Islamiyah Kuantan Singingi beruntung, karena mulai tahun 2006 sampai tahun 2011 Ketua Umum Tarbiyah Islamiyah Kuantan Singingi menjadi bupati.

Kedepan Isya Allah diharapkan warga Tarbiyah Islamiyah akan lebih beruntung, karena bukan hanya ketua umum Tarbiyah Islamiyah yang akan menjadi pemimpin Kuantan Singingi kedepan, tetapi Ketua Dewan Pembina (Drs. Zulkifli, M.Si, red) juga mendampingi untuk periode 2011-2016.

Dalam pada itu Ketua Umum Tarbiyah Islamiyah Kabupaten Kuantan Singingi H. Sukarmis mengatakan pemerintahan Kuansing 2006-2011 bupatinya orang Tarbiyah dan wakilnya orang Muhammadiyah. “Dulu wakilnya Mursini, orang Muhammdiyah,” kata Sukarmis.

Sekarang rencana, jika kompak selalu bupatinya ketua Tarbiyah Islamiyah, dan wakil bupatinya Ketua Dewan Pembina Tarbiyah Islamiyah. “Orang Tarbiyah keduanya,” tambahnya lagi lebih memfokuskan kalau mereka pasangan murni tarbiyah.

Dalam memimpin Kuansing, Sukarmis mengatakan kalau dirinya pernah mendapatkan penghargaan Kementrian Agama Republik Indonesia (RI) sebagai salah satu dari lima bupati terbaik di Indonesia dalam bidang agama.

“Waktu itu ada lima orang bupati, ada yang dia tu memang kiai, bapaknya kiai dan dia kiai, keduanya dapat piagam dari Kementrian Agama, ada anak kiai, terus ada bupati yang bekerja di daerah kiai,” kata Sukarmis.

Keberhasilan itu menurutnya erat kaitannya dengan sesuatu yang telah buat selama ini, dimana pemerintah menghimbau agar anak yang mau masuk SMP memiliki ijzah MDA (PDTA-red).

Juga Sukarmis dengan bangga, kalau posisinya menjadi bupati sekaligus Ketua Umum Tarbiyah Islamiyah telah mencetuskan berdirinya SMA Pintar, serta telah memperbaiki moral anak-anak Kuansing. “Kalau pulang cium tangan, sudah jauh berubah,” katanya menggambarkan moral anak-anak Kuansing.
Sukarmis juga mengatakan, kalau semua orang bisa membangun infrastruktur jika ada dana, tapi kalau membangun manusia sangat sulit. Salah satu cara membangun manusia itu menurutnya mendidik anak-anak di SMA Negeri Pintar, dimana disekolah itu diajarkan sejumlah bahasa, mulai dari Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman dan Bahasa Indonesia.

Tamatan Sekolah Pintar diklaim Sukarmis jika mau masuk perguruan tinggi seakan pindah lokal saja, kalau dulu sangat sulit. Namun masih juga ada kendala seperti yang dialami salah seorang anak asal Gunung Toar, yang lulus di kedokteran dimintai uang oleh kampus yang bersangkutan. “Suadara harus membayar uang muka Rp 80 juta,” kata Sukarmis menirukan kalimat pihak fakultas yang meminta uang itu.

Mengalami hal tersebut, anak itu datang ke rumah Sukarmis pagi-pagi, namun hanya kata-kata “Tak dapek akal dek ambo,”. Setelah itu Sukarmis langsung pergi acara, namun dikatanya, kalau hal itu membuatnya seakan menjadi “penghianat”. Kalimat penghiatan itu diibaratkan karena kalau membangun ladang tidak selesai, setelah dicangkul, ditanam dan tidak dituai, berarti hal itu takbur yang disamakannya dengan penghianat.

Itu terkait sekolah pintar, warga Tarbiyah juga diingatkan Sukarmis tentang pelaksanaan Pemilukada Kuansing yang telah menjalani tahap demi tahap, sebulan yang lalu telah mendaftar, deklarasi, test kesehatan, ternyata sejumlah fitnah telah dilemparkan oleh lawan politik ke tengah masyarakat.

Isu yang pertama digulirkan lawan politik dimaksud, H. Sukarmis stroke, dilarikan ke Singapure, Malaysia dan Jakarta, isu lain calon wakil bupati Drs H Zulkifli, M.Si kena penyakit jantung dan tidak lulus test kesehatan. “Tolong berdiri Zulkifli, sehat,” katanya. Kemudian Sukarmis mengaku dirinya difitnah dengan tuduhan korupsi, ditambah tuduhan sekarang Sukarmis-Zulkifli kurang agamais. “Kurang agamonye, jenye ambo, ambo ngaku, ibu-ibu, bapak-bapak, kalau memang itu ambo mengaku, kalau ambo disuruah menjadi khatib, memang ambo dak mampu, ambo bukan seorang khatib, kalau ambo disuruahan jadi imam, ambo dak sanggup jadi imam do, kalau untuak khatib la ado urangnyo, kalau untuak imam la ado urangnyo, untuak pemerintahan, bupati la adolo urang-nga, kalau sado bupati, bontuak apo jadinyo, jadi imam, bupati, jadi khatib bupati, tukang kebun, bupati, tukang tuli, bupati, “ jelas Sukarmis membeberkan sejumlah fitnah yang beredar itu.

Sebelum jadi bupati, Sukarmis mengaku telah menjadi Ketua Tarbiyah Islamiyah, dan saat itu juga bermacam fitnah juga telah ditebarkan, mulai dikatakan kalau dirinya memakan babi, istri banyak belum lagi gundik-gundik. (noprio sandi)


Massa Tarbiyah Islamiyah Kecamatan Kuantan Mudik ikut hadir di Desa Seberang Pantai, mereka menjadi saksi bisu rencana majunya Sukarmis-Zulkifli dalam pemilukada. (Noprio sandi)

Ketua Persatuan Tarbiyah Islamiyah Kuantan Singingi H Sukarmis bersalaman dengan Ketua Dewan Pembina Persatuan Tarbiyah Islamiyah Kuantan Singingi Drs H Zulkifli, M.Si dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Seberang Pantai Kecamatan Kuantan Mudik. (Dok. Pewarta)

Hulu Kuantan-Sumpu, Desa Yang Terlupakan

Tidak pernah beraspal jalannya, tidak berlistrik, itulah yang dialami masyarakat Desa Sumpu Kecamatan Hulu Kuantan. Berada dikawasan yang terisolir, itu sudah menjadi santapan sehari-hari, apalagi jauh dari perhatian pemerintah. Masyarakat hidup sederhana ditengah luasnya lahan perkebunan dan hutan.

Karono Intan, perempuan tua desa itu dengan ulet pergi menuju hutan, dia tidak terjatuh, dia salah satu masyarakat asli desa tersebut yang kesehariannya menyadap karet dikebun orang, ini cukup aneh, ditengah hutan dan perkebunan yang luas, ternyata dia tidak memiliki kebun karet sama sekali.

Alasan tidak ada kebun menurutnya karena dia tidak memiliki suami lagi untuk mengolah lahan, meski ada sedikit tanah pembagian keluarga yang turun temurun, itupun direncanakan akan dijualnya kepada yang berminat.

Warga lain, Ipus, laki-laki yang terbaring dibawah sebuah pohon dekat rumahnya tengah menjalani penyembuhan perut sebelah kanannya yang sakit sejak beberapa hari, tidak ada dokter dan tidak berobat dengan tenaga medis.

Ipus mempercayai, jika dibawa berobat ke puskesmas atau rumah sakit, penyakitnya tidak akan ditemukan oleh dokter, maka dia lebih memilih berobat kepada dukun, ya, dia merasakan kalau perutnya mulai baik, bahkan telah mulai bisa diisi makanan.

Terkait pembangunan di desa itu, sangat jauh dari harapan, masyarakat seperti sudah patah arang atas pembangunan yang akan diberikan oleh pemerintah, bahkan salah satu pembangunan yang telah dijanjikan Bupati Kuansing H Sukarmis ketika berkunjung ke desa itu, pembangunan jamban mandi tak kunjung terealisasi, bahkan hanya terkesan hanya janji-janji saja.

Tokoh masyarakat setempat Syofyan Datuak Paduko merasa kecewa dengan sikap Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, bahkan mereka malah menganggap tidak ada bedanya antara masih bergabung dengan Kabupaten Indragiri Hulu dengan sekarang telah menjadi kabupaten sendiri Kabupaten Kuantan Singingi.

Ditengah hausnya masyarakat desa itu akan pembangunan, Bupati Kuansing H Sukarmis memang pernah menjanjikan akan membangun jamban mandi desa itu, di jamban ini sebagai satu-satunya tempat bagi masyarakat melaksanakan aktivitas MCK.

Bahkan menurut Syofyan, ibu-ibu desa mereka jika ingin mencuci harus rela mengundi bagi yang bersamaan datang, dan rela antri bagi mereka yang datang kemudian, sungguh ironis.

Tapi lebih ironis lagi, pejabat teras Kuansing juga telah menebar janji ditengah penderitaan masyarakat, tentu ini menjadi tanda Tanya, kapan jamban ini akan dibangun, padahal telah dijanjikan orang nomor 1 di kabupaten ini, bahkan disaksikan oleh berbagai pihak, baik tingkat kecamatan maupun tingkat kabupaten, karena janji itu diucapkan pada saat acara melayur jalur desa itu.

Namun itulah yang bisa dirasakan masyarakat, mereka telah menjadi bulan-bulanan janji bagi pejabat, lalu kepada siapa mereka harus mengadu, harus kembali ke Kabupaten Indragiri Hulu, tentu tidak mungkin, karena semuanya telah terjadi.

Tidak adanya pembangunan di desa diakui Syofyan ada kaitannya dengan sejumlah proyek besar di Kota Teluk Kuantan, seperti Sport Centre, dia menganggap Sport Centre ini belum begitu penting, karena masyarakat di desa lebih membutuhkan pembangunan, bahkan masyarakat desa tidak tersentuh pembangunan sama sekali.

Listrik memang tidak mereka harapkan sama sekali, karena tidak mungkin desa itu akan dialiri listrik, jalan aspal juga sangat jauh dari harapan, mereka hanya bisa pasrah, terutama dalam mengusulkan pembangunan melalui Musrenbang yang entah kapan realisasinya.
Kepala Desa Sumpu Mukhtar di jaban mandi desa mereka mengatakan kalau Bupati Kuansing H Sukarmis pernah menjanjikan akan membangun jamban mandi mereka yang hanya lebih kurang 50 meter saja, tapi realisasinya sampai sekarang belum juga.

Namun saat Musrenbang lalu, pihaknya telah mengusulkan agar ditempat tersebut dibangun jamban mandi, dan merekapun tidak mengetahui keinginan itu akan bisa terwujud atau tidak. (noprio sandi)

Kuantan Mudik-Jangan Lupakan Pendekatan Budaya Perahu Baganduang



Tiga tahun terakhir grafik pelaksanaan kegiatan Manjopuik Limau dengan Perahu Baganduang di Lubuk Jambi Kecamatan Kuantan Mudik mengalami fluktuasi yang berarti. Mulai dari yang membuka acara ini sampai kepada pelaksanaan. Padahal seorang pemimpin bisa melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui budaya ini.

Melihat pelaksanaan Manjopuik Limau dengan Perahu Baganduang di Tepian Muko Lobuah (19/9), delapan buah perahu baganduang telah ditambatkan, letusan kembang api tidak henti-hentinya, ini menjadi bagian pesta budaya masyarakat di Kuantan Mudik.

Tidak jauh dari tempat itu, terlihat tenda acara seremonial, orang menjadi bertanya, siapa gerangan yang membuka acara ini, baru diketahui bupati hanya diwakili Asisten II Marduyut SE, namun ditempat itu duduk Drs H Mursini, M.Si, ternyata dia buka sebagai wakil bupati tetapi sebagai tokoh masyarakat Kecamatan Kuantan Mudik.


Tokoh Ikatan Keluarga Kuantan Mudik Pekanbaru Drs H Nasrun Rasyid mengatakan kondisi tiga tahun terakhir kegiatan Manjopuik Limau dengan Perahu Baganduang mengalami fluktuasi yang cukup signifikan, terutama terkait pejabat atau pemimpin yang membuka acara ini.

Pada tahun 2007 yang membuka acara ini Gubernur Riau H M Rusli Zainal SE MP, tahun 2008 juga Gubernur Riau Drs Wan Abu Bakar, M.Si, tahun 2009 Wakil Bupati Drs H Mursini, M.Si, dan tahun 2010 dibuka Asisten II Kuansing Marduyut SE.

Tahun Yang Membuka Acara
2007 Gubenur Riau H M Rusli Zainal
2008 Gubernur Riau Drs H Wan Abu Bakar M, Si
2009 Wakil Bupati Drs H Mursini, M.Si
2010 Asisten II Marduyut SE

Terasa semakin menurun, terutama yang membuka acara sampai kepada kemeriahan kegiatan budaya yang ada hubungan emosional dengan masyarakat Kecamatan Kuantan Mudik, padahal kehadiran pemimpin diacara ini sangat diharapkan masyarakat serta tokoh masyarakat Kuantan Mudik yang ada di Pekanbaru.

Namun Nasrun hanya menilai kalau pemimpin di Kuansing belum bisa merasakan emosional masyarakat Kuantan Mudik, padahal seharusnya pemimpin harus banyak melakukan pendekatan budaya. “Jangan lupakan pendekatan budaya,” kata Nasrun.
Mendengar pembicaraan Nasrun, yang dimaksudnya Bupati Kuansing H Sukarmis, karena ditempat itu Wakil Bupati Drs H Mursini MSi hadir sebagai tokoh masyarakat, tentu bukan Mursini yang dimaksudkan tokoh Kuantan Mudik di Pekanbaru ini, Pemkab Kuansing hanya mengutus Asisten II Marduyut SE.

Marduyut hanya minta maaf kalau Bupati Kuansing H Sukarmis tidak bisa hadir karena pada saat yang sama juga telah ada agenda acara yang telah teragendakan lebih dulu masuk dibandingkan acara Manjopuik Limau dengan Perahu Baganduang, dan tidak bisa ditunda.

Padahal dalam sambutan tertulis bupati yang dibacakan Marduyut, Manjopuik Limau dengan Perahu Baganduang berharap terus dilestarikan dan dikembangkan menjadi objek wisata andalan yang bisa mendatangkan wisatawan.

Pengembangan itu dengan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Untuk partisipasi ini panitia saat itu memberikan subsidi kepada 8 desa yang membuat perahu baganduang, penyerahan subsidi itu dilakukan tokoh masyarakat Kuantan Mudik Drs H Mursini, M.Si, Ketua Ikatan Keluarga Kuantan Mudik (IKKM) Pekanbaru Bastian Rusli dan tokoh masyarakat Kuantan Mudik di Pekanbaru Drs H Saprius. (noprio sandi)



Drs H Mursini M.Si selaku tokoh masyarakat Kecamatan Kuantan Mudik memberikan subsidi kepada desa yang ikut acara Manjopuik Limau dengan Perahu Baganduang. (noprio sandi)

Masjid Agung, Akankah Terus Diagungkan?

Menjelang pelaksanaan MTQ XXIX Tingkat Provinsi Riau di Teluk Kuantan, pejabat Kuansing mulai dari Bupati Kuansing H Sukarmis, Wakil Bupati Drs H Mursini serta Sekda Drs H Zulkifli M,Si diberbagai tempat sangat mengagungkan keberadaan Masjid Agung Sinambek Teluk Kuantan. Permintaan dukungan kepada masyarakat dalam pembangunan masjid ini terus dikumandangkan secara jelas, kumandang itu ternyaa mulai sayup terdengar setelah pelaksanaan MTQ, akankah masjid ini terus diagungkan dimasa datang?.

Menggesa pembangunan Masjid Agung menjelang pelaksanaan MTQ sangat terlihat, pekerja bekerja siang dan malam melalui Yayasan Basatu Nagori Maju dibawah kendali H Masran Ali, S.Ag mesjid ini seperti disulap, mengenai kualitas pekerjaan belum diketahui secara pasti.

Umbul-umbul yang terpasang serta baleho yang ada di sekitar masjid saat MTQ mulai ditanggalkan, tinggallah masjid seperti biasanya, hanya beberapa kegiatan setelah MTQ dilaksanakan di masjid ini, termasuk pelepasan Calon Jemaah Haji.

Tiga pejabat teras Kuansing diatas saat ini dalam berbagai acara jarang lagi mengatakan permintaan dukungan kepada masyarakat untuk menyelesaikan Masjid Agung ini, melainkan berbagai topik pidato, arahan serta sambutan mereka telah mengarah kepada kepentingan yang lain, yang paling banyak pengalihan itu kepada kepentingan pemilukada.

Maka wajar jika masyarakat Kuansing bertanya, akankah Masjid Agung ini akan terus diagungkan?, jawaban ini sebenarnya telah ada dihati masyarakat dari tindak tanduk pejabat Kuasing serta pihak yayasan setelah pelaksanaan MTQ.

Pekerjaan struktur utama masjid ini ternyata juga belum selesai, empat buah menara masjid yang direncanakan pengerjaannya setelah MTQ tentu diharapkan juga bisa selesai seperti yang diharapkan, termasuk sarana pendukung lainnya sesuai rencana dengan menelan dana lebih dari Rp 56 milyar.

Masyarakat bisa bayangkan betapa megahnya masjid ini jika seratus persen selesai, karena jika dibandingkan dengan masjid yang telah ada di Kuansing, diantaranya beberapa masjid yang ada di Kecamatan Singingi Hilir sepanjang ruas jalan Teluk Kuantan – Pekanbaru, masjid-masjid itu dibangun oleh pihak PT RAPP dengan anggaran rata-rata dibawah Rp 1 milyar, dapat dibayangkan jika angka Rp 56 milyar untuk Masjid Agung di Teluk Kuantan, wah tidak terbayangkan.

Namun jika dibandingkan dengan pembangunan fisik yang telah ada sekarang, dari dana yang telah terkumpul baik hibbah dari Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi yang telah mencapai Rp 17 milyar serta sumbangan yang lainnya, keberadaan fisik Masjid Agung sangat tidak logika jika dibandingkan dengan masjid di sepanjang ruas jalan Teluk Kuantan – Pekanbaru tadi.

Namun demikian, apa yang telah dilakukan pihak yayasan, tentu mereka disuatu saat nanti bisa mempertangungjawabkan kegiatan mereka, jangan sampai ada korban yang terjerat hokum akibat pembangunan masjid yang sebenarnya memiliki tujuan mulia, membangun rumah tuhan.

Jika kembali kepada perjalanan Kuansing kebelakang beberapa tahun lalu semasa pemerintahan Drs H Asrul Ja’afar, pemerintah juga pernah mencoba mengganggarkan dana Rp 40 milyar untuk pembangunan Masjid Agung, namun upaya ini gagal, karena ramai-ramai anggota DPRD Kuansing waktu itu menjegal agar pembangunan masjid ini ditunda terlebih dahulu, saat itu ketua DPRD H Sukarmis, yang saat ini menjabat bupati Kuansing.(noprio sandi)


Masjid Agung Kuantan Singingi yang terletak di Jalan Proklamasi. (noprio sandi)


Masjid Agung Kuantan Singingi tampak belakang. (noprio sandi)


Jembatan kayu penghubung GOR Sport Centre ke Masjid Agung bagian belakang. (noprio sandi)


Drainase pendukung Masjid Agung. (noprio sandi)