Minggu, 23 Oktober 2011

Orang Gila Jaga Rumah Dinas

Tak kunjung ditempatinya rumah dinas jabatan Pemkab Kuansing dimanfaatkan orang gila. Salah satu rumah dinas yang ditempati itu pos jaga rumah Ketua DPRD. Penunggunya orang gila berjenis kelamin wanita, sehingga mulai membuat resah warga sekitar.

Berdasarkan pengamatan, Minggu (23/10), seorang wanita memakai baju kaos oblong terlihat duduk di pos jaga rumah dinas ketua DPRD. Didepan wanita ini, ada dua bungkusan yang kurang jelas isinya.

Sekali-kali, wanita ini berjalan ke samping pos jaga, entah apa yang dilakukannya, seakan dia telah merasa memiliki rumah pos jaga rumah dinas itu, karena pintunya bisa dibuka dengan mudah.

Wanita ini ketika diambil gambar, langsung mendekat, difoto beberapa kali, dia bertanya untuk apa sering-sering difoto, dari logat bahasanya, dia bukan orang asli Kuantan Singingi melainkan dari tempat lain.

Terkait adanya wanita tersebut, ketika ditanya kepada masyarakat yang ada disekitar rumah dinas itu mengatakan kalau wanita yang ada dipos jaga itu merupakan orang gila. “Itu orang gila,” ujar beberapa orang masyarakat.

Ditambahkan, orang gila tersebut telah tinggal dan memanfaatkan pos jaga itu sekitar dua bulan, dia dengan leluasa masuk pekarang rumah dinas itu karena pagar tidak dikunci sama sekali.

Ternyata, keberadaan orang gila di pos jaga rumah dinas itu mulai meresahkan masyarakat juga karena pada malam hari sering didatangi pria mabuk, sehingga mereka takut kalau orang gila diperkosa dan nantinya hamil. (noprio sandi)

Teks fhoto

Orang gila berjenis kelamin wanita terlihat santai saat diambil gambarnya dipekarangan rumah dinas Ketua DPRD Kuansing, rumah dinas dinas sampai sekarang belum ditempati pejabat, sehingga dimanfaatkan orang gila. (noprio sandi)

Jadikan PGRI Pengayom dan Pembela Kepentingan Guru, Bukan Penguasa

Keberadaan organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) diminta untuk menjadi pengayom dan pembela kepentingan guru, bukan penguasa, sekarang dan selamannya.

“PGRI Milik Guru, Independensi PGRI Harga Mati. Jadikan PGRI Sebagai Pengayom dan Pembela Kepentingan Guru, Bukan Penguasa, Sekarang dan Selamannya”. Inilah kalimat yang tertulis dalam sebuah spanduk berukuran 4 meter dibuat oleh  Forum Komunikasi Guru dan Insan Peduli Pendidikan Kuansing (FKGIPKS) dalam Konferensi Kabupaten (Konferkab) PGRI di Aula SMA 1 Teluk Kuantan, Kamis (20/10).

Menanggapi hal tersebut, Ahdanan Saleh, S.Ag, M.Pd Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Pondok Pesantren KH Ahmad Dahlan menilai organisasi PGRI Kuansing tidak lagi menjadi wadah memperjuangkan aspirasi dan hak-hak guru,  tetapi sudah menjadi kepentingan penguasa.

Konferkab dinilai Ahdana hanya seremonial saja, tidak akan melahirkan pengurus yang  kredibel, yang ada hanya orang yang lata kekuasaan, tidak punya itikad baik membangun pendidikan.

Semua ini sudah terlihat dari gelagat pelaksanaan konferkab tersebut, FKGIPKS tidak diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi ribuan guru Kuansing lainnya yang telah menjadi korban pemilihan umum kepala daerah, karena guru tersebut berbeda pilihan, sehingga dianggap tidak loyal. “Pada sisi lain kami juga mendapat bocoran calon ketua sudah dititip,” isi SMS Ahdanan.(noprio sandi)