Minggu, 23 Oktober 2011

Jadikan PGRI Pengayom dan Pembela Kepentingan Guru, Bukan Penguasa

Keberadaan organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) diminta untuk menjadi pengayom dan pembela kepentingan guru, bukan penguasa, sekarang dan selamannya.

“PGRI Milik Guru, Independensi PGRI Harga Mati. Jadikan PGRI Sebagai Pengayom dan Pembela Kepentingan Guru, Bukan Penguasa, Sekarang dan Selamannya”. Inilah kalimat yang tertulis dalam sebuah spanduk berukuran 4 meter dibuat oleh  Forum Komunikasi Guru dan Insan Peduli Pendidikan Kuansing (FKGIPKS) dalam Konferensi Kabupaten (Konferkab) PGRI di Aula SMA 1 Teluk Kuantan, Kamis (20/10).

Menanggapi hal tersebut, Ahdanan Saleh, S.Ag, M.Pd Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Pondok Pesantren KH Ahmad Dahlan menilai organisasi PGRI Kuansing tidak lagi menjadi wadah memperjuangkan aspirasi dan hak-hak guru,  tetapi sudah menjadi kepentingan penguasa.

Konferkab dinilai Ahdana hanya seremonial saja, tidak akan melahirkan pengurus yang  kredibel, yang ada hanya orang yang lata kekuasaan, tidak punya itikad baik membangun pendidikan.

Semua ini sudah terlihat dari gelagat pelaksanaan konferkab tersebut, FKGIPKS tidak diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi ribuan guru Kuansing lainnya yang telah menjadi korban pemilihan umum kepala daerah, karena guru tersebut berbeda pilihan, sehingga dianggap tidak loyal. “Pada sisi lain kami juga mendapat bocoran calon ketua sudah dititip,” isi SMS Ahdanan.(noprio sandi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar