Sabtu, 04 Juni 2011

Kuantan Hilir: Rayo Onam, Ajang Tawar Menawar

Oleh
Noprio Sandi

Berbeda dari Rayo Onam sebelumnya, tahun 1431 H terjadi tawar menawar antara “Sukarmis, Zulkifli – Ninik Mamak Koto Tuo Baserah”. Ninik mamak minta dibantu rumah godang, Sukarmis meminta dukungan untuk bisa maju di pemilu kepala daerah tahun 2011 mendatang.


Rayo Onam yang bertepatan dengan Jum’at (17/9) tahun 2010, pagi itu hujan mengguyur sejumlah wilayah di Kuansing termasuk di Baserah tempat pelaksanaan Rayo Onam, rombongan Bupati Kuansing H Sukarmis hadir di halaman kantor camat Kuantan Hilir, tempat ini menjadi pemusatan acara Rayo Onam, sejumlah rencana agenda telah disiapkan, mulai dari pelepasan arak-arakan Sisampek, sampai kepada rencana memasuki rumah godang.

Ninik mamak dari empat suku yang ada di Koto Tuo Baserah, Suku 3 Kampuang, Melayu, 5 Kampuang dan Cemin duduk bersamaan dengan Bupati Kuansing H Sukarmis dipentas utama, mereka terlihat akrab serta sejumlah tokoh lainnya.

Camat Kuantan Hilir Muhammad Refendri Zukman, S.Sos mengemukakan, kalau saat ini empat suku Koto Tua Baserah belum memiliki rumah godang empat kepenghuluan secara bersama dan baru ada sesuai suku masing-masing, sehingga untuk menggelar pemusatan acara Rayo Onam belum ada tempatnya.
Untuk perayaan Rayo Onam kali ini, atas seizin ninik mamak, dipusatkan di halaman kantor camat Kuantan Hilir, maka diharapkan kedepan agar pemerintah bisa membantu pembangunan rumah godang untuk Koto Tuo Baserah.

Ternyata kondisi itu ditanggapi oleh Bupati Kuansing H Sukarmis, program pembangunan kedepan adat dan budaya menjadi pembangunan yang prioritas, bahkan jauh sebelum permintaan dari ketua panitia dan camat, pemerintah telah memikirkannya.

Adat ini dinilai sangat penting, bahkan Sukarmis mencontohkan ditempat asalnya Sentajo, pada hari raya kedua, hampir semua rumah warga di Sentajo tutup, karena mereka semuanya berkumpul di rumah godang. Ditempat ini sangat kompak.


Di rumah godang ini, posisi sebagai bupati tidak ada artinya sama sekali, Sukarmis duduk dibagian bawah, sementara yang diagungkan ditempat ini ninik mamak serta tokoh adat lainnya sesuai ketentuan adat yang berlaku.

Banyak perselisihan yang bisa diselesaikan melalui tokoh adat ini, sehingga hukum negara tidak diterapkan, melainkan hanya untuk beberapa kasus diantaranya perjudian, narkoba dan pencurian.

Sukarmis merasa, Kabupaten Kuantan Singingi mulai dari Desa Tanjung Pauh Kecamatan Singingi Hilir, Hulu Kuantan serta bagian lainnya merupakan kawasan yang beradat, maka dengan demikian terjadi tawar menawar, Sukarmis berjanji, jika terpilih kembali nantinya akan memberikan perhatian lebih kepada adat ini. “Saya janji, adat istiadat harus ditingkatkan,” janji Sukarmis.

Setelah itu, Sukarmis atas nama Pemkab Kuansing memberikan bantuan sebesar Rp 25 juta dengan perincian, Rp 5 juta untuk pelaksanaan acara, sedangkan sisanya untuk empat suku yang ada dibagi sama rata, maka satu suku mendapatkan Rp 5 juta. Bantuan ternyata juga datang dari Anggota DPRD Provinsi Riau Hj Supriati Mahdili Rp 10 juta untuk pelaksanaan acara Rayo Onam.

Usai memberikan bantuan, Sukarmis yang dijadwal akan melepas arak-arakan sisampek batal dilaksanakan termasuk rencana mengunjungi salah satu rumah godang suku di Koto Tuo Baserah, dan mereka berlalu menuju Teluk Kuantan. (*)

Camat Kuantan Hilir Muhammad Refendri Zukman, S.Sos menemani Bupati Kuansing H Sukarmis mencicipi makanan saat hari Rayo Onam, Jum’at (17/9) di pendopo kantor camat Kuantan Hilir.(nopriosandi)

Anggota DPRD Kuansing Kedapatan Bagi-bagi Uang

BENAI - Tampaknya, seruan Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kepala Daerah (Panwaslukada) Kuantan Singingi Riau di masa tenang seperti sekarang ini diabaikan.

Seorang anggota DPRD Kuansing menurut tribunnews.com tertangkap basah oleh anggota Panitia Pengawas Lapangan (PPL) sedang membagi-bagikan sejumlah uang kepada beberapa orang masyarakat di Desa Siberakun, Kecamatan Benai, Senin (4/4/2011).

Anggota Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Benai, Edi Erianto, kepada Tribun, Selasa (5/4/2011) malam, mengungkapkan, temuan tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. PPL, mendapati seorang anggota DPRD Kuansing dari Fraksi Demokrat, Duski Mansyur sedang membagi-bagikan uang.

Selain itu, lanjutnya, mereka juga berhasil menyita barang bukit berupa satu lembar uang nominal Rp 50 ribu. Hingga saat ini, Panwaslukada sedang menyelidiki kasus itu dengan mengumpulkan dua orang saksi.

Apabila terbukti, kata Edi, perbuatan tersebut dapat dikategorikan dalam politik uang atau money politic. Namun, bagaimana kelanjutan kasus tersebut tergantung pada kesaksian para saksi. "Kalau saksi berkilah, sulit kita buktikan. Tergantung bagaimana nantilah," ujarnya.

Ditanya soal kasus tersebut akan dikaitkan dengan pasangan calon tertentu, dikatakannya, tidak menutup kemungkinan. Namun, ia kembali tetap tidak ingin terlalu jauh memberikan penjelasan. "Tergantung nantilah. Kalau kemungkinan itu ada kaitannya sama pasangan calon tertentu," ujarnya.

Sementara itu, Panwaslukada Kuansing masih belum menerima berkas perkara tersebut. "Masih diproses di kecamatan," kata Anggota Panwaslukada Kuansing Divisi Pengawasan dan Humas, Madi Warmanto, kemarin.

Ia menjelaskan, Panwaslukada telah mengarahkan Panwascam Benai untuk melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian. Diharapkannya, temuan tersebut dapat diperkuat dengan keterangan saksi sehingga dapat diproses lebih lanjut ke Gakumdu.

Anggota Dewan Duski Mansyur hingga tadi malam tidak dapat dihubungi. Namun, kepada seorang wartawan di Teluk Kuantan, ia membantah melakukan tindakan politik uang. Ia mengatakan, hal tersebut sudah biasa dilakukannya kepada masyarakat.

"Saya hanya memberikan uang kepada anak-anak dan janda-janda. Itu biasa saya lakukan," kata Duski seperti dikutip dari cerita cerita seorang wartawan kepada Tribun(*)

Panwas Ogah Hadiri Pelantikan Bupati Kuansing

TELUK KUANTAN - Jajaran Panitia Pengawas (Panwas) memilih acuh tak acuh bahkan tidak menghadiri pelantikan Bupati Kuansing dan Wakil Bupati Kuansing, Sukarmis dan Zulkifli di Balai Daerah Abdul Rauf, Rabu (1/6/2011) lalu.

Masalah honor seluruh jajaran Panitia Pengawas (Panwas) menjadi penyebabnya. Seperti dirilis tribunnews.com, sikap tersebut merupakan bentuk untuk mengekspresikan rasa kekecewaan mereka terhadap Pemerintah Daerah (Pemda). Jasa mereka dinilai tidak dihargai selama berjalannya tahapan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada).

Ketua Panwaslukada Kuansing, Ahdanan Saleh, pada Tribun, menyatakan, tidak akan berpartisipasi dalam bentuk kehadiran pada pelantikan tersebut. Sikap tersebut, menurut dia, bentuk dari tindakan boikot yang mereka rencanakan sebelumnya. Meski begitu, ia menyadari tindakan tersebut kurang berarti.

"Kami memutuskan tidak hadir. Teman-teman yang lain (PPL, Panwascam dan Panwaslukada) sepakat untuk bersama-sama tidak hadir. Pemda sepertinya tidak menghargai kami. Padahal kami dibentuk oleh Undang-undang. Memang tidak ada artinya, tapi hanya seperti itulah yang bisa kami lakukan untuk menunjukkan kekecewaan kami," tuturnya.

Jajaran Panwas di Kuansing, yakni 3 orang Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), 36 orang anggota Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) dan ratusan anggota Panitia Pengawas Lapangan (PPL) yang tersebar di tiap desa.

Mulai April 2011 lalu hingga kini, honor mereka tidak dibayarkan lagi. Masa kerja mereka berakhir Juli mendatang. Dari Rp2,3 miliar, Pemkab Kuansing hanya sanggup mencairkan Rp1 miliar saja. Pemkab akan mencairkan segala kekurangan pada tahap kedua. (*)

Koperasi Industri dan Perdagangan: Kapan Kuansing Merdeka Dari Kelangkaan Premium


Ingin merdeka, itu harapan bagi mereka yang terjajah, agaknya tidak berlebihan jika kata-kata tersebut diumpamakan dengan seringnya kelangkaan premium (bensin, red) di Kabupaten Kuantan Singingi, lalu siapa yang menjajah (imprelisnya, red), dan siapa yang terjajah.

Kelangkaan premium Kuansing sebenarnya telah terjadi menahun, hampir di semua SPBU, yang dipicu pada awalnya oleh spekulan yang menimbun premium untuk mencari keuntungan pribadi, mereka ini bisa dikategorikan penjajah.

Lalu, masyarakat yang setiap harinya memerlukan premium untuk menjalankan kendaraannya kesulitan mendapatkan premium, sementara mereka yang berjualan dipinggir jalan bahkan disekitar SPBU dengan mudah mendapatkan premium, maka bisa diumpamakan, pengendara tersebut merupakan orang yang terjajah.

Yang menjajah dan yang kena jajah ternyata tidak pernah terjadi kontak senjata, yang terjajah tidak berjuang untuk merebut kemerdekaannya, mereka pasrah dengan system yang ada, bahkan mereka rela membeli premium disejumlah pedagang pengecer dengan harga yang fantastis.

Darah untuk berontak itu ternyata lama kelamaan mengalir juga didiri masyarakat yang kena jajah, pada awal Maret 2011, sejumlah SPBU diserbu pembeli premium, mulai menggunakan kendaraan roda dua sampai roda empat.

Ternyata yang terjajah tersebut melakukan hal tersebut bukan karena semangat patriotisme, melainkan karena terpaksa, mengapa demikian, ternyata premium dipedagang pengecer juga telah habis, mereka (yang terjajah, red) terpaksa harus mengantri.

Betapa tidak, pemandangan setiap hari pengendara sepeda motor menjalankan sepeda motornya dengan berjalan kaki karena kehabisan premium menjadi pemandangan lumrah, bahkan masyarakat yang tidak bisa melakukan aktivitas sama sekali karena tidak memiliki premium untuk kendaraan mereka.

Namun kadang kala, pedagang pengecer mendapatkan premium, itupun berkat kerja keras mereka mengantri malam hari di berbagai SPBU, bahkan sampai subuh meski kadang kala tidak berhasil, bagi mereka yang berhasil, alamat akan kaya, dimana dari hasil pembelian premium Rp 4.500/liter dijual dengan harga Rp 7.000/liter sampai Rp 10.000/liter, bahkan dibeberapa kawasan dijual dengan harga lebih tinggi.

Lalu dimana peran Pemkab Kuansing?, aparat keamanan TNI?, maupun Polri? Berada dimana mereka, sebagai penjajahkan atau mereka juga kena jajah oleh pihak-pihak yang mengambil keuntungan dalam permasalahan ini.

Pemkab Kuansing, semua orang tahu, mereka telah mengeluarkan kebijakan yang belum tentu kebenarannya bagi negara ini, dimana mereka telah memberikan rekomendasi kepada pedagang pengecer untuk bisa membeli premium menggunakan jerigen maksimal 3 jerigen 1 hari.

Meski mereka telah memberikan larangan kepada pedagang pengecer radius 3 KM dari SPBU untuk tidak berjualan, ternyata kebijakan tersebut hanya isapan jempol belaka, Pemkab Kuansing tak berdaya menertibkan pedagang eceran ini.

Sementara pedagang eceren yang sebenarnya berasal dari berbagai daerah di Kuansing malah sering tidak menapatkan premium, meski mereka telah antri hingga subuh dari malam hari, ironis memang, yang dapat premium yang itu-itu saja, lagi-lagi siapa sebenarnya yang penjajah.

Mungkin ada yang berpendapat kalau Pemkab Kuansing bisa dikategorikan juga sebagai penjajah, karena mereka mengeluarkan kebijakan yang perlu ditinjau, meski Bupati Kuansing H Sukarmis telah mengeluarkan teguran ke-3 bagi sejumlah SPBU, teguran itu hanya isapan jempol juga, Pemkab Kuansing juga tak berdaya menghadapi mafia di SPBU.

Siapa sebenarnya orang kuat yang berada di belakang SPBU ini, sangat bisa ditebak, kalau tidak mereka yang memiliki sesuatu untuk menggertak semua orang tentu dan tidak mungkin mereka hanya menggunakan tangan kosong.

Lalu apa yang digunakan?, apakah perampok bersenjata yang berada dibelakang SPBU ini, sehingga setiap orang tidak berdaya menghadapinya?, itu dikembalikan kepada diri masing-masing, biarlah masyarakat yang akan menilai, bisa saja, untuk masalah ini pemerintahan Sukarmis-Mursini dinilai gagal. (noprio sandi)

Foto-foto Koperasi Industri dan Perdagangan

KUD Langgeng di Kecamatan Benai merupakan salah satu koperasi yang cukup berhasil di Kuansing. (Noprio sandi)

Kepala Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan Kabupaten Kuantan Singingi Drs. Darwin Yohanes, M.Si ketika melakukan tanam perdana kelapa sawit, kerja sama salah satu koperasi dengan perusahaan utuk mensejahterakan masyarakat (noprio sandi)

Kesehatan: Bupati Buka Seminar Diagnostik & Terapi Muktahir

Kemajuan bidang ilmu kedokteran semakin hari semakin pesat, bahkan kemajuan itu rata-rata didominasi rumah sakit swasta, diantaranya Eka Hospotal Pekanbaru, sejumlah dokter Kuansing yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kuantan Singingi diberi pengetahuan tentang diagnostic & terapi terapan.

Antusias memang, dokter-dokter yang biasa bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Puskesmas di Kuansing, Rabu (29/9) meninggalkan rumah sakit serta puskesmas, mereka berbondong-bondong ke Balai Adat Kenegerian Teluk Kuantan di Sungai Jering, ternyata ada seminar diagnostic dan terapi muktahir.

Tidak tanggung-tanggung, seminar ini dibuka secara resmi Bupati Kuansing H Sukarmis, sejumlah dokter mulai dari spesialis sampai dokter umum serta perawat menunggunya datangnya Sukarmis yang terlebih dahulu membuka kuliah umum STT-US, STIP-US dan STAI di Gedung Abdoer Rauf.

Ketua panitia penyelenggara dr. M. Bhusman. NS dari pihak Rumah Sakit Eka Hospital Pekanbaru mengatakan saat ini ilmu dan teknologi kedokteran semakin hari semakin berkembang, termasuk yang ada di Eka Hospital Pekanbaru, sehingga harus diketahui oleh jajaran kesehatan yang ada di daerah terutama dalam bidang doagnostik dan terapi mutakhir.

Bahkan dia mengklaim fasilitas yang ada di rumah sakit itu hampir sama dengan fasilitas yang ada di Malaka, sehingga bagi masyarakat Kuansing yang mau berobat tidak perlu lagi ke Malaka melainkan bisa datang ke Eka Hospital saja.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kuantan Singingi dr. H. Armen Suheri mengklaim kalau pihaknya di Kuansing telah berpartisipasi dalam pembangunan bidang kesehatan atas anggota yang tersebar di berbagai puskesmas, RSUD sampai kepada klinik swasta.

Anggota IDI saat ini mencapai 95 orang, mereka berstatus PNS, spesialis, honor daerah, PTT pusat, semuanya memberikan pelayanan kepada masyarakat Kuansing, kedepan berbagai cara akan dilakukan untuk meningkatkan pelayanan ini.

Bupati Kuansing H Sukarmis dalam acara tersebut pada awalnya menyinggung masalah udara ruangan tempat acara, dan dikaitkannya dengan kondisi puskesmas yang ada di berbagai kecamatan dan desa yang tidak memiliki AC.

Namun apa yang dimaksudnya tersebut tidak langsung dijelaskan secara detail sehingga menjadi tanda Tanya dari sejumlah tenaga kesehatan yang hadir di Balai Adat Teluk Kuantan tersebut, melainkan mengarahkan pembicarakan kepada Direktur RSUD Teluk Kuantan dr Djasmuddin Djalal, M.Kes yang dinilai dokter paling berani.

Betapa tidak, ternyata yang dikatakan Sukarmis ini, Djamuddin seorang dokter yang tidak henti-hentinya merokok, bahkan kalau makan suka makanan yang berlemak seperti gulai, sementara dirinya mengaku sudah berhenti merokok.

Sukarmis mengakui sebelumnya dia merupakan perokok berat, akibatnya sering berobat ke Malaysia dan Singapure, sementara berobat di Eka Hospital diakuinya belum pernah mencobanya melainkan baru datang di tempat itu menjengguk teman.

Sukarmis mengaku enggan berurusan dengan dokter, keengganan ini ternyata dia sangat takut kalau sakit sehingga mendapatkan perawatan dokter, maunya memang selalu sehat, termasuk enggan berurusan dengan Djasmudin.

Pembicaraannya kembali tertuju kepada Djasmudin, sebelum menjabat direktur RSUD Teluk Kuantan, ternyata Djasmudin merupakan seorang pejabat eselon II di Kabupaten Indragiri Hulu, namun sekarang dia mau menjabat eselon III sebagai Direktur RSUD Teluk Kuantan untuk mengabdi di Kuantan Singingi.

Dokter, perawat serta tenaga medis lainnya dipastikan Sukarmis orang yang akan masuk surga, kalau hatinya tidak mendongkol dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, karena yang diurus dokter dan perawat ini merupakan orang yang sakit bahkan ada yang busuk.

Kadang kala rasa dongkol dokter itu ternyata terlihat juga, dimana masih ada dokter yang telah ditugaskan diberbagai daerah di Kuansing malah minta pindah ke kota, padahal maksudnya diletakkan diberbagai daerah ada kaitannya dengan visi yang diemban Sukarmis.

Sebelum menjadi bupati, Sukarmis bertekad untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, dimana karena hobi berburu babi, dirinya sering berjumpa dengan orang yang mengalami penyakit aneh, bahkan keanehan itu terlihat menimpa laki-laki yang perutnya besar, padahal yang biasanya perut besar ini diderita oleh wanita saat hamil, termasuk sering mengetahui kalau ibu melahirkan meninggal dunia.

Oleh sebab itu, dia mengaku merasa terpanggil untuk memperbaiki kesehatan masyarakat, sehingga saat ini diakuinya tidak terdengar lagi ada ibu yang meninggal saat melahirkan, sebagai tanda kemajuan dan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Sehingga pengiriman dokter ke berbagai daerah di Kuansing bukan mengusir atau mencampakkan dokter itu, melainkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, kalau sebelumnya hanya ada tenaga medis setingkat para medis atau yang biasa disebut masyarakat “mantari”, hanya dia tempat berobat.
Disamping hanya minim tempat berobat, masyarakat juga banyak yang takut berobat ke tenaga medis dan tak jarang mantari ini juga sering jual mahal dalam mengobati masyarakat, namun sekarang dokter sudah banyak termasuk bidan.

Sukarmis mengakui dokter serta tenaga medis lainnya merupakan pekerjaan yang terhormat dan mulia yang dikagumi dan diseganinya, karena untuk bisa menjadi dokter harus menempuh pendidikan 7 sampai 8 tahun.

Membutuhkan biaya yang besar, kemampuan yang tinggi, sehingga secara berguyon, dia juga ingin mendapatkan menantu seorang dokter, karena saat ini baru paling tinggi mendapatkan menantu dibawah dokter.

Sukarmis mengaku sayang dengan para medis, karena para medis memiliki jiwa sosial yang tinggi, bahkan kadang kala ada orang yang berobat tidak membayar sama sekali karena tidak memiliki uang, namun demikian para medis tetap ikhlas membantu masyarakat. (noprio sandi)

Bupati Kuansing H Sukarmis menerima voucer dari pihak Eka Hospital Pekanbaru dalam suatu seminar. (noprio sandi)

Puskesmas Lubuk Jambi salah satu puskesmas yang kedepannya akan diberi AC agar dokter nyaman. (noprio sandi)

Kepala Dinas Kesehatan dr Hoppy Dewanto, M.Kes saat menyampaikan SPT Tahunan di kantor pelayanan pajak Teluk Kuantan. (noprio sandi)

Kepala Dinas Kesehatan dr Hoppy Dewanto, M.Kes dan Direktur RSUD Djasmuddin Djalal, M.Kes saat mendampingi Bupati Kuansing H Sukarmis dalam sebuah acara di Balai Adat Teluk Kuantan. (noprio sandi)

Kesehatan-Klinik Swasta Juga Terima Askes

Semakin ketatnya persaingan bisnis kesehatan di Kuantan Singingi membuat pelaku bisnis ini mengerahkan cara-cara khusus, termasuk menerima pasien askes dan memberikan pelayanan yang baik sebagaimana pasien yang membayar secara langsung.

Salah satunya dilakukan Klinik Duta Kuantan Medika samping Pasar Rakyat Teluk Kuantan, berdasarkan pengamatan (7/9), pasien yang memiliki kartu askes dipermudah ditempat ini, ketika dikatakan berobat dengan Askes resepsionis memberikan pelayanan yang baik.

Bahkan jika kartu askes tertinggal, pelayan ini cukup menanyakan nomor askes pasien, bahkan jika pasisen tidak mengetahui bisa dengan membayar biaya pengobatan terlebih dahulu, setelah ditemukan kartu askes bisa mengkalaimnya agar uang kembali.

Ditempat ini dari pagi hingga malam hari tersedia dokter umum dan juga ada dokter gigi, terlihat banyak juga masyarakat yang memanfaatkan klinik ini untuk berobat meski tidak menggunakan kartu askes, dokter yang ada juga tidak kalah hebatnya dibandingkan dokter yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) atau dokter di Puskesmas. (noprio sandi)

Kapolres Baru Sumondo Kuansing

Apa yang ada di benak masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi, selama ini yang menjadi kapolres tidak ada hubungan keluarga dengan masyarakatnya, namun kali ini kapolres baru merupakan urang sumodo, dia bernama AKBP Ristiawan Bulkaini SH, menjadi kapolres terhitung sejak 28 Agustus 2010.

(28/8), di Mapolda Riau, terjadi serah terima jabatan Kapolres Kuansing dari kapolres lama AKBP Rudi Abdi Kasenda kepada kapolres Baru AKBP Ristiawan Bulkaini SH dan dilakukan acara pisah sambut di Gedung Abdoer Rauf pada awal bulan September lalu.

Selama 9 bulan 25 hari, kapolres lama AKBP Rudi Abdi Kasenda menjabat di Kuansing, tentu ada kesan dan pesan terutama dari jajaran kepolisian sendiri, karena mereka bergaul, melakukan operasi bersama sampai kepada menggelar berbagai kegiatan secara bersama.

Saat pisah sambut, Waka Polres Kompol Mudji Suprianto S.Ik yang juga saat itu baru bertugas sekitar 5 bulan di Kuansing sangat terkesan dengan rasa kebersamaan yang dimilik AKBP Rudi Abdi Kasenda, hal itu terasa saat dilakukan operasi Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Sungai Paku, saat itu cuaca panas, mereka berada disana bersama-sama, karena panas akhirnya mereka sama-sama nyebur ke dalam sungai untuk mengurangi rasa panas itu.

Kebersamaan itu juga dirasakan jajaran kepolisian sampai kepada anggota lainnya dalam mengangkat barang bukti kejahatan PETI itu berupa alat dompeng, 1 dompeng antara 200 sampai 300 kg, itu yang mereka gotong bersama, untuk satu dompeng diangkat oleh 13 orang.

Kebersamaan ini diluar dugaan Mudji, karena ketika dirinya mendapatkan telegram tugas ke Kuansing, pada awalnya dia berpikir akan bisa duduk-duduk santai saja di meja seperti beberapa orang waka polres lainnya di Riau, tapi ternyata ini tidak sama sekali, karena dirinya selalu disuruh ke lapangan oleh AKBP Rudi Abdi Kasenda.
Kesan lain yang dirasakan Mudji, AKBP Rudi Abdi Kasenda memiliki rasa kekeluargaan, bayangkan saja, baru bertugas di Kuansing, Mudji sudah mengetahui main domino gaya Aceh, ini sebagai bentuk kekeluargaan antara sesama pimpinan dan anggota kepolisian.

Setelah kesan, Mudji juga berpesan kepada AKB Rudi Abdi Kasenda agar jangan melupakan jajaran Polres Kuansing setelah berangkat ke Pekanbaru tempat tugas baru di Mapolda Riau, termasuk jika disapa, agar melihat dan jangan putus silaturahmi.

Kepada kapolres baru AKBP Ristiawan Bulkaini SH, Mudji mengucapkan selamat datang di Kabupaten Kuantan Singingi, sehingga di Kabupaten Kuantan Singingi diharapkannya tetap kondusif dan dapat lindungan Allah SWT.

Sementara, AKBP Rudi Abdi Kasenda setelah sertijab (28/8) lalu mengatakan dirinya telah bertugas di Kabupaten Kuantan Singingi selama 9 bulan 25 hari, dan telah diberikan kesempatan dirinya bersama istri untuk hadir ditengah masyarakat, Rudi juga mengucapkan terima kasih atas dukungan masyarakat selama ini, dan dia juga mohon doa restu bertugas di tempat baru.

Kemudian, kapolres baru AKBP Ristiawan Bulkaini SH ternyata merupakan urang sumodo Kuansing, sehingga wajar saat memberikan sambutan pada pisah sambut itu, dia menyuruh sang istri untuk maju kedepan sambil memperkenalkan diri.

Ristiawan sendiri berasal dari Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat, sedangkan sang istri berasal dari Limuno Teluk Kuantan, dan mereka menikah tahun 1993 saat itu Kabupaten Kuantan Singingi masih tergabung dengan Kabupaten Indragiri Hulu.

Mereka memiliki satu anak, dan saat ini masih duduk di kelas 2 salah satu SMP di Pekanbaru, dan tidak pindah ke Kuansing karena tanggung mendekati ujian.
Akpol 1992 dari Sumatera Barat, Ristiawan mendapatkan penempatan di Pacitan Jawa Timur, kemudian di Polres Ponorogo sebagai kasat lantas, Lamongan dan pernah menjadi Kapolsekta Surabaya Selatan, juga pernah Kapolsekta Rembangan Surabaya Utara, Polresta Surabaya Selatan.

Selain di pulau Jawa, Ristiawan ternyata juga bertugas di Sulawesi Tenggara tahun 2001, pernah di Palu dan pernah menjadi Waka Polres di Toli-Toli, kemudian melanjutkan Stipol tahun 2006 dan setelah tamat mendapatkan penempatan di kampung halaman.

Suatu hikmah yang tak terhingga menurut Ristiawan bertugas di kampung halaman, bisa berdekatan dengan orang tua, karena selama ini selalu berjauhan.

Ristiawan berharap kepada masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi bisa menerima kehadiran mereka dan memberikan dukungan dalam menjaga keamanan dan ketertiban agar situasi tetap bisa kondusif.

Jumlah aparat kepolisian yang terbatas salah satu alasan mengapa bantuan masyarakat menurutnya sangat diperlukan, dan dia juga mengucapkan selamat jalan kepada mantan Kapolres Kuansing AKBP Rudi Abdi Kasenda.

Bahkan Ristiawan mengharapkan kepada AKBP Rudi Abdi Kasenda agar main-main ke Kuansing, dan secara kebetulan ternyata Ristiawan telah tiga kali menggantikan jabatan Rudi mulai dari Kasat PJR pada suatu tempat sampai kepada menggantikan Rudi menjadi kapolres di Kuansing.

Secara bergurai, Ristiawan tidak mau dikatakan selalu mengejar jabatan Rudi, namun ternyata mantan dan kapolres ini telah kenal baik sejak di Akademi Kepolisian, bahkan Ristiawan menjadi yunior oleh Rudi, dan dikatakannya Rudi merupakan senior yang baik.

Kepada seluruh jajaran kepolisian di Kuansing, Ristiawan berharap agar bisa menjaga hubungan baik antara masyarakat dengan kepolisian agar jangan sampai terjadi konflik ditengah masyarakat dan tetap menjaga keamanan tetap kondusif di Kuansing.

Wakil Bupati Kuantan Singingi Drs H Mursini M.Si ditempat acara pisah sambut itu mengucapkan terima kasih kepada mantan kapolres AKBP Rudi Abdi Kasenda karena telah memberikan pelayanan kepada masyarakat Kuansing selama 9 bulan 25 hari.

Kerja keras dan pengabdian yang diberikan Rudi selama ini sangat dirasakan masyarakat, sehingga setelah bertugas di tempat baru, untuk kerja sama yang telah dilakukan selama ini tetap dijaga dimasa yang akan datang, diteruskan dan dilanjutkan.

Ketika di Mapolda Riau, Mursini berharap kepada Rudi agar telah menjalin komunikasi seperti halnya yang dilakukan mantan-mantan kapolres Kuansing lainnya sebelum Rudi, Zulkifli, Heri dan Heni.

Untuk kapolres Kuansing yang baru, Mursini mengatakan kalau Ristiawan telah mengetahui kondisi Kabupaten Kuantan Singingi termasuk kondisi adat istiadat, karena banyak adat istiadat Kuansing berasal dari Sumatera Barat.

Dan diharapkan juga bisa menjadi mitra Pemkab Kuansing dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, karena dimasa yang akan datang tugas dari kepolisian masih sangat berat dan kompleks, selama ini sangat baik hubungan kemitraan itu dalam menjaga kamtibmas termasuk dalam memberantas penyakit masyarakat, dan diharapkan juga saling bergandeng tangan. (noprio sandi)

Istri Kapolres Kuasing yang baru merupakan orang Kaunsing, sehingga Kapolres Kuasing menjadi urang sumondo. (Noprio sandi)

Kependudukan dan Catatan Sipil: Pertumbuhan Penduduk Kuansing Pesat

Moral Generasi Telah Di Protek Dengan MDA

TELUKKUANTAN-Perumbuhan penduduk Kuansing sejak awal berdiri tahun 1999 hingga sekarang 2010 cukup pesat mencapai 52,68 persen. Semua anak-anak ingin sekolah, namun moral generasi telah diprotek (dilindungi-red) dengan himbauan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA).

“Sekarang penduduk Kuantan Singingi lebih kurang 317 ribu jiwa, dari pertama kita hanya 167 ribu, dari mulai yang 10 tahun yang belakang, menjadi 317 ribu, bentuk apa itu perkembangan, perkembangan bagaimana ini, orang yang merantau ke sini, ataupun anak kanduang, ini yang terdata, apalagi yang tak terdata,” kata Sukarmis, Senin (26/4) lalu di SMA Pintar Teluk Kuantan.

Semunya ini ingin sekolah dan menginginkan anaknya pintar serta memiliki pengetahun yang baik. “Apalagi sekarang ini, sedang bagus-bagusnya MDA. MDA ini saya sampaikan bapak ibu sekalian, satu yang mau, semua menerima, ini dia, saya rasa, anak saya sendiri bisa membaca Al Qur’an dan bisa sholat, setelah saya adakan MDA, semuanya mau, tanpa Perbub, tanpa Perda. Siapa yang mau masuk SMP, tidak ada ijazah MDA, tidak dibolehkan masuk SMP. Alhamdulillah, semuanya, anak-anaknya dimasukkan ke MDA,” kata Sukarmis.

Sukarmis mempersilahkan berbagai pihak untuk melihat kondisi real yang ada mulai dari hari senin sampai jum’at setiap minggunya, akibat anak-anak belajar di MDA tidak terlihat lagi generasi Kuansing itu kebut-kebutan dijalan raya. “Malahan jam lima kita pulang dari mana-mana, anak-anak kita pulang dari MDA semua, ALhamdulillah, berpakaian Islam, berkopiah, bercelana panjang, kadang-kadang nangis saya lihat anak-anak ramai pulang, tanpa dibimbing orang tuanya ramai-ramai pulang, pakai kopiah, lengan panjang, karena ini program pemerintah, program saya,” katanya bangga.

Dibuatnya program MDA ini untuk memprotek moral generasi Kuansing menurutnya, karena bertitik tolak dari keberadaan dirinya yang kurang pasih membaca Al Qur’an. “Kenapa bapak ibu sekalian, saya tidak bisa membaca Al Qur’an menyanyi, tidak sepintar bapak-bapak ibu-ibu, adik-adik ini membaca Al Qur’an. Makanya saya ingin pintar, lebih dari saya itu.

Dulu saya bodoh membaca Al Qur’an, sekarang tidak boleh lagi anak-anak bodoh membaca Al Qur’an. Dahulu saya bodoh dalam pendidikan, sekarang tidak boleh lagi anak-anak sekarang seperti saya. Jadi semuanya ini, kebelakangan saya sendiri,” alasan Sukarmis. (noprio sandi)

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kuantan Singingi Drs Erlianto dalam acara Pelantikan Kapolres Kuansing di Gedung Abdoer Rauf tahun 2010. (Noprio sandi)

Kepegawain Daerah: Pemotongan Kesra Untuk Tingkatkan Disiplin

Ketika dana kesra pegawai cair, banyak juga pegawai dilingkungan Pemkab Kuansing yang kesal. Kekesalan itu disebabkan oleh dana kesra yang diterima tidak lagi utuh jumlahnya. Ternyata dana kesra itu dipotong langsung karena pegawai yang bersangkutan tidak hadir sesuai absensi yang ada setelah diproses pihak Badan Kepegawaian Daerah (BKD).

Kepala BKD Drs Muharman, M.Pd membenarkan kalau dana kesra sejumlah pegawai dipotong berdasarkan absensi yang ada, terutama mereka yang bolos tidak masuk kantor atau tidak upacara. “Memang dipotong,” tegas Muharman.

Pemotongan itu ternyata telah dilakukan secara teliti sesuai laporan yang masuk ke BKD dan setelah itu pihak BKD melakukan kooordinasi dengan pihak yang akan membayarkan dana kesra itu, meski kadang kala memang ada yang protes dikarenakan kekeliruan.

Namun demikian, pemotongan dana kesra tersebut menurut Muharman tidak ada maksudnya untuk mengurangi pendapatan pegawai dilingkungan Pemkab Kuansing, melainkan untuk meningkatkan disiplin pegawai.

Termasuk sebagai pertanggungjawaban pemerintah terhadap masyarakat karena dana kesra yang diberikan cukup memakan dana yang yang besar sehingga kalau tidak diikuti dengan peningkatan disiplin masyarakat akan marah.

Dengan demikian, setelah pemotongan ini, diharapkan pegawai dilingkungan Pemkab Kuansing akan lebih disiplin dimasa yang akan datang. (noprio sandi)

Kepala BKD Drs Muharman M.Pd saat menghadiri acara Rayo Onam di Baserah. (noprio sandi)

Berita Kehutanan: Melihat Lebih Dekat Proses Produksi Pulp RAPP

Pabrik PT RAPP dilihat dari salah satu sisi bangunan, kayu-kayu akasia sebagai bahan baku termasuk dari HTI Kuansing dibawa ke pabrik ini. (noprio sandi)


Melihat deretan truk pengangkut kayu akasia diberbagai ruas jalan, tentu orang akan berpikir kayu itu diangkut ke pabrik kertas, ya RAPP atau perusahaan lainnya. Namun suatu kesempatan, Persatuan Wartawan (Pewarta) Kuantan Singingi diberi kesempatan untuk berkunjung ke pabrik RAPP, tentu dengan berbagai proteksi-proteksi yang telah mereka perhitungkan.

Mengundang wartawan tentu ada konsekwensinya, takut sesuatu yang dirahasiakan bisa terbongkar, namun salah departemen RAPP yang biasa disebut masyarakat umum bagian humasnya telah mempertimbangkan dan memperhitungkan terkait kehadiran rombongan wartawan ini.

Pewarta berangkat secara bersama dari Teluk Kuantan melewati jalan pintas Sako Pangean, jalan ini dibuat memang untuk lalu lintas kendaraan berat pengangkut kayu dari berbagai estate RAPP, pemandangan mobil trailer mengangkut kayu akasia menjadi pemandangan biasa.

Ruas jalan ini memang tidak diaspal, namun kondisinya terus dirawat, sehingga bias dilalu dengan kecepatan tinggi, namun jika suasana panas, pengendara harus hati-hati dengan debu yang sangat tebal, lampu mobil harus dinyalakan, namun jika hujan turun, siap-siap juga pada ruas tertentu mobil lewat seperti berjalan di atas bubur.

Pewarta disambut pihak RAPP pada suatu hotel Pangkalan Kerinci di luar mill, malma harinya dijamu makan malam disalah satu restoran, pagi harinya rombongan Pewarta dijemput dan secara bersama masuk ke kawasan pabril atau mill RAPP.

Untuk masuk ke kawasan ini tidaklah mudah, harus melewati gerbang security, nomor polisi mobil Pewarta di catat dan dan dengan sigap penjaga itu mempersilah masuk menuju salah satu hotel, ternyata di kawasan itu ada hotel berbintang tiga.

Di depan hotel itu terlihat kompleks perumahan perusahaan, kemudian kami telah ditunggu disalah satu ruang pertemuan yang cukup mewah di hotel itu, sejumlah instruktur telah menunggu, ada yang orang bule, ada orang Indonesia.

Ditempat ini, Pewarta diberi pengetahuan tentang keberadaan RAPP, mulai sertifikasi yang didapat dari berbagai pihak diantaranya Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), Suistainable Plantation Forest Management, sampai kepada masalah kepedulian perusahaan terhadap masyarakat sekitar.

Ada yang unik dari penjabaran materi, ada pemakalah yang 100 persen menggunakan bahasa Inggris, sejumlah wartawan terlihat terangguk-angguk, entah karena mengerti atau karena tidak mengerti sama sekali, untung saja ada penerjemahnya menggunakan bahasa Indonesia.

Materi diantaranya terkait tiga domain keberlanjutan Riaupulp, planet, people and profit, planet berupa pengembangan kawasan konservasi, keanekaragaman hayati, pengembalian integritas kualitas sumber daya alam, pengendalian percemaran lingkungan, penyiapan lahan tanpa baker.

People, penyediaan lapangan kerja/peluang usaha, pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan, profit, suplay bahan baku serat berkualitas yang berkelanjutan dengan memastikan terpenuhinya aspek legalitas bahan baku.

Kondisi itu diantaranya dijabarkan bagian Corporate Social Responsibility, dimana “CRS adalah komitmen dunia usaha untuk berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan; berkerja dengan para karyawan dan keluarganya; masyarakat tempatan dan masyarakat secara luas dalam meningkatkan kualitas hidup mereka”.

Visi CSR Riaupulp menjadi salah satu perusahaan yang terbaik melaksanakan praktek kepedulian social di Asia, misi, memberdayakan ekonomi komunitas local berbasis penguatan partisipasi masyarakat, membangun kemitraan dan persebatian yang berkualitas antara Riaupulp, karyawan dan masyarakat tempatan, serta masyarakat secara luas.

Program Permberdayaan Masyarakat Riau (PPMR) adalah suatu mekanisme layanan sumber daya dukung untuk membantu masyarakat agar dapat mengentaskan dirinya sendiri, tujuan utama program, pengentasan kemiskinan masyarakat marjinal, peningkatan pendapatan usaha masyarakat, penguatan kapasitas kelompok mitra dampingan, peningkatan kualitas pendidikan anak, pelayanan kesehatan masyarakat, pengembangan usaha berbasis partisipasi masyarakat, pengembangan infrastruktur social.

Lokasi dan sasaran program masyarakat di sekitar Perusahaan yang tersebar di Kabupaten Pelalawan, Kuantan Singingi, Siak, Kampar dan Kepulauan Meranti.

Salah satunya program pertanian terpadu, capaian program, sampai September 2010 kelompok tani berjumlah 125 yang tersebar di 93 desa, berada di 5 kabupaten, jumlah mitrabina 2656 KK, Program SPT Tahun 2009 lebih mengarah pada pendampingan kelompok tani desa Ring I perusahaan, baik mill maupun Riaufiber serta penguatan kelompok tani masa transisi dari Yayasan ke CD/CSR PT. RAPP.

Pertanian, lahan pertanian yang dikelola mitra seluas 1017 ha yang dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura dan tanaman pangan. Tahun 2009 dan 2010 Riaupulp melalui program CSR ikut mendukung kegiatan Operasi Pangan Riau Makmur (OPRM) dalam pengembangan tanaman pangan di Kuansing dengan 57 ha berupa bantuan saprodi kepada 92 KK. Di Kabupaten Kampar membangun percetakan sawah seluas 50 ha untuk 96 KK. Untuk Kabupaten Siak seluas 10 ha percetakan sawah, dan Kabupaten Pelalawan seluas 30 ha berupa bantuan Saprodi.

Juga ada program Infrastruktur Sosial, mencakup kegiatan pembangunan, renovasi, pengadaan sarana dan prasarana berbentuk fisik kepada masyarakat di wilayah operasional perusahaan, SIP program mencakup, fasilitas umum dan social, pengembangan pendidikan. Untuk fasilitas umum dan social berupa pembangunan dan renovasi sarana atau prasarana desa, pengadaan sarana dan prasarana air bersih, bantuan penerangan desa, bantuan prasarana jalan, bantuan peralatan kantor desa, sementara untuk pengembangan pendidikan mencakup pembangunan dan renovasi gedung sekolah, dan bantuan perlengkapan gedung sekolah.

Yang tak kalah menarik program UMKM, tujuan program meningkatkan kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi selaku mitra dampingan (penerima program) dengan dengan mengembangkan sikap kewirausahaan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usahanya.

Layanan pendampingan usaha secara berkelanjutan sehingga mitra dampingan mampu memberdayakan potensi diri dan sumber daya lingkungannya menjadi peluang bagi pengembangan usaha. Menumbuhkan semangat kolabirasi antar pihak-pihak yang mempunyai perhatian dan kepedulian untuk memberdayakan UMKM.

Kemudian dari pada itu, Riaupulp ternyata juga membantu mitra dampingan dalam mendapatkan pembiyaan dari bank, dimana tahun 2009 Bank BTN Syariah masih mendominasi dengan total kredit Rp 19,2 milyar, untuk jenis usaha yang berkaitan dengan kepentingan perusahaan, Burging Ponton, Plantation, Harvesting, Water Truck, Bus Karyawan, Supplay Manpower, dan Fire Truck Protection.

Riaupulp juga telah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat

Dalam pada itu, program yang juga tidak dilupakan Riaupulp, program pendidikan, mulai dari program beasiswa Riaupulp, program penerimaan beasiswa 2009 (SD, SMP dan SMA) sebanyak 845 siswa berasal dari 86 desa di 5 kabupaten (Pelalawan 282 siswa, Kuantan Singingi 188 siswa, Kampar 140 siswa, Siak 173 siswa, Kepulauan Meranti 62 siswa).

Untuk tahun 2010 diagendakan Nopember, akan diberikan beasiswa yang sama seperti 2009 kepada 1.515 pelajar, masing-masing siswa SD mendapat Rp 600.000,-/tahun, untuk SMP Rp 900.000,-/tahun dan siswa SLTA Rp 1.200.000,-/tahun.

Pada tahun 2009 juga dilanjutkan dengan pemberian beasiswa bagi 39 mahasiswa D3/S1 @ Rp 3,5 juta/semester, yang tahun sebelumnya juga menerima. Beasiswa penuh (full scholarship) diberikan kepada 20 orang tamatan SLTA untuk melanjutkan studi ATPK Bandung. Pada tahun 2010 terpilih 5 siswa.

Juga dilakukan pelatihan guru bertajuk PCDP (Personal Character & Development Program) tahun 2009 diikuti 35 guru yang dilaksanakan di Kelurahan Teluk Meranti. Pada Agustus 2010 pelaksanaan pelatihan guru diadakan di Pekanbaru dengan 84 orang peserta. Juga ada Program study tour anak sekolah, telah dilakukan 6 kali dengan jumlah siswa yang berpartisipasi sebanyak 196 siswa.

Kemudian dari pada itu, setelah disuguhi berbagai program serta pengenalan perusahaan, Pewarta diajak untuk melihat proses produksi pulp (pulp production process), terlebih dahulu diberi penjelasan melalui diagram yang ada di layer besar sekaligus contoh bahan baku sampai kepada zat kimia yang digunakan.

Ternyata kayu akasia itu dimasak terlebih dahulu dalam tungku setinggi 15-22 meter, volume 200-400 m3, tekanan 1,2 – 1,4 MPa dan temperature 2010 derajat celcius.

Bahan baku tersebut dicampur dengan zat kimia sehingga menjadi bubur kertas dengan komposisi sesuai permintaan pasar, kemudian ada juga yang dibuat kertas putih dengan kadar air 5 %, sampai kepada produk kertas foto copy bermerek Paper One. (noprio sandi)

Pabrik bagian dalam terlihat produksi tanpa henti. (noprio sandi)

Bahan baku dan proses produksi pulp diperlihatkan kepada Pewarta Kuansing oleh PT RAPP. (noprio sandi)

Pewarta diberi kenang-kenangan berupa kertas yang diterima Sekretaris Pewarta Desriandi Candra, S.Ip. (Noprio sandi)

Salah satu product RAPP kertas foto kopi merk paper one. (Noprio sandi)