Selasa, 19 Juli 2011

Sukarmis-Zulkifli Kurang Dapat Legitimasi

TELUKKUANTAN-Pemerintahan Pemkab Kuansing dibawah Sukarmis-Zulkifli kurang mendapatkan legitimasi (pengakuan, red) dari masyarakat. Pasalnya, banyak acara besar sekelas pacu jalur di kecamatan, panitia malah mengundang Mursini (calon bupati kalah, red) untuk hadir, bukan bupati yang menang, Sukarmis atau Zulkifli.

Memang Mahkamah Konstitusi (MK) telah memenangkan pasangan Sukarmis-Zulkifli untuk memimpin Kuansing, dan dari rekomendasi terus ke Mendagri, mereka dilantik oleh Presiden RI diwakili Gubernur Riau H.H. Rusli Zainal, namun apakah pelantikan itu bersarang dihati rakyat?, ingin menjawab? jawab sendiri.

Pertama dihembuskan, Sukarmis-Zulkifli bupati transmigrasi, Mursini-Gumpita bupati pilihan rakyat Kuantan, itulah yang keluar dari sejumlah mulut masyarakat yang tidak puas dengan proses demokrasi di Kuansing.

Ternyata ada benarnya, sejumlah acara syukuran, Pemkab Kuansing saat ini telah memfokuskan ke arah kawasan ekstransmigrasi, sementara kawasan sungai Kuantan keberadaan Sukarmis-Zulkifli kurang mendapatkan respon dari masyarakat, kecuali pada kawasan basis-basis tertentu.

Terbukti dengan berbagai acara yang digelar oleh ninik mamak, pertama di Kecamatan Pangean, ninik mamak membuat acara pacu jalur, yang diundang dalam acara tersebut Mursini (mantan calon bupati kalah, red), tapi bupati yang resmi malah tidak mendapatkan respon dari masyarakat, akibatnya tidak lama ketika kedatangannya, Sukarmis berlalu, untuk mengikuti acara lain ke Cerenti, terus ke TBS.

Kondisi yang sama juga terjadi ketika acara pacu jalur di Kecamatan Kuantan Hilir, di tepian Lubuak Sobae Baserah (15/7), Mursini juga diundang masyarakat, bahkan Mursini berrsama sejumlah rekan telah duduk enak di pancang finis.

Pemkab Kuansing yang diwakili Wakil Bupati Drs. H. Zulkifli, M.Si pada awalnya tidak direncanakan akan membuka pacu jalur tersebut, melainkan hanya dibuka oleh ninik mamak setempat, tapi entah bagaimana tiba-tiba saja, Zulkifli telah datang untuk membuka acara tersebut.

Kedatangan yang kurang diterima masyarakat tersebut ternyata masih bisa diredam, dan wakil bupati resmi pemerintah tersebut memang sempat pergi ke pancang star untuk melepas, ya mereka awalnya lega.

Tidak lama berselang, ternyata rombongan Zulkifli pergi ke pancang finis, dengan maksud menonton pacu, ternyata di pancang finis, semua tempat duduk telah penuh, undangan lain yang hadir tidak mempersilahkan sejumlah pejabat yang hadir untuk duduk, melainkan hanya untuk Zulkifli, satu kursi diantara Mursini dan Musadeq (tokoh masyararakat Kuantan Hilir di Jakarta, red).

Ternyata kondisi ini kembali menjadi penghinaan yang amat dahsyat terhadap pemerintahan resmi, karena masyarakat ternyata tidak menginginkan wakil bupati resmi datang, melainkan sangat mendambakan kedatangan Mursini (calon bupati kalah, red).

Hanya beberapa kali hilir, Zulkifli bersama sejumlah pejabat teras Kuansing lainnya meninggalkan tempat acara, kepergian ini ternyata berdampak kepada sang camat, Yuhendra, S.Sos, yang pada gilirannya dicopot dari jabatannya sebagai camat.

Keesokan harinya, sejumlah panitia dan masyarakat bertengkar, pertengkaran ini mempertanyakan siapa yang mengundang Zulkifli dalam acara pacu jalur tersebut, padahal dalam rencana awal, pemerintahan resmi tidak diundang. (noprio sandi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar